8 Jenis Olahraga yang Perlu Dihindari Penderita Penyakit Jantung

  • 28 Sep 2026 15:10 WIB
  •  Bengkalis

RRI.CO.ID, Bengkalis - Olahraga secara rutin dapat membantu menjaga kebugaran dan kesehatan jantung. Namun, bagi orang yang memiliki penyakit jantung, tidak semua jenis olahraga bisa dilakukan dengan bebas.

Aktivitas fisik dengan intensitas sangat tinggi, gerakan mendadak, atau olahraga yang memberikan tekanan besar pada tubuh dapat meningkatkan beban kerja jantung. Karena itu, jenis dan intensitas olahraga sebaiknya disesuaikan dengan kondisi masing-masing.

Berikut beberapa jenis olahraga yang perlu diwaspadai oleh penderita penyakit jantung, dikutip laman Alo dokter.

1.Lari Jarak Jauh dan Lari Sprint

Lari jarak jauh, seperti maraton, membutuhkan daya tahan fisik yang tinggi. Sementara itu, lari sprint membuat tubuh bekerja dalam intensitas sangat tinggi dalam waktu singkat.

Kedua aktivitas tersebut dapat meningkatkan detak jantung dan kebutuhan oksigen secara signifikan. Pada orang dengan kondisi jantung tertentu, peningkatan beban kerja tersebut mungkin tidak sesuai dengan kemampuan jantung.

Penderita penyakit jantung sebaiknya tidak langsung mengikuti latihan lari berintensitas tinggi tanpa penilaian dan arahan dari dokter.

2.High-Intensity Interval Training (HIIT)

HIIT terdiri dari periode latihan dengan intensitas tinggi yang diselingi waktu istirahat atau aktivitas dengan intensitas lebih rendah.

Latihan seperti ini dapat membuat detak jantung meningkat dengan cepat. Bagi sebagian penderita penyakit jantung, perubahan intensitas yang cepat mungkin tidak sesuai, terutama jika kondisi jantung belum stabil.

Jika ingin melakukan HIIT, konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter untuk mengetahui apakah latihan tersebut aman dan bagaimana intensitas yang sesuai.

3.Angkat Beban Sangat Berat

Latihan kekuatan sebenarnya dapat menjadi bagian dari aktivitas fisik penderita penyakit jantung. Namun, mengangkat beban yang terlalu berat perlu dihindari, terutama jika dilakukan dengan teknik yang kurang tepat.

Menahan napas ketika mengangkat beban juga dapat menyebabkan tekanan darah meningkat secara tiba-tiba. Karena itu, latihan kekuatan sebaiknya dilakukan menggunakan beban yang sesuai kemampuan dan dengan teknik pernapasan yang benar.

4.CrossFit Intensitas Tinggi

CrossFit dapat menggabungkan latihan kardio, kekuatan, dan gerakan fungsional dalam tempo yang cepat.

Sesi dengan intensitas tinggi dapat meningkatkan denyut jantung dan memberikan beban fisik yang besar. Pada penderita penyakit jantung, latihan semacam ini sebaiknya tidak dilakukan tanpa penyesuaian dan pengawasan profesional.

Jika tetap ingin melakukan latihan kekuatan atau kardio, pilih program yang telah disesuaikan dengan kondisi kesehatan.

5.Sepak Bola Kompetitif

Sepak bola melibatkan kombinasi berlari, sprint, berhenti secara mendadak, perubahan arah, dan kontak fisik. Dalam pertandingan kompetitif, intensitas aktivitas juga dapat berubah dengan cepat.

Kombinasi tersebut membuat tubuh dan sistem kardiovaskular bekerja cukup berat. Penderita penyakit jantung perlu berkonsultasi dengan dokter sebelum mengikuti olahraga kompetitif seperti sepak bola.

6.Basket Intensitas Tinggi

Basket melibatkan aktivitas seperti berlari, sprint, melompat, dan perubahan arah secara cepat.

Gerakan tersebut dapat menyebabkan peningkatan kebutuhan oksigen dan detak jantung dalam waktu singkat. Oleh sebab itu, olahraga basket kompetitif mungkin tidak cocok untuk sebagian penderita penyakit jantung.

Namun, bukan berarti semua bentuk permainan basket otomatis harus dihindari. Tingkat aktivitas perlu disesuaikan dengan kondisi dan rekomendasi tenaga kesehatan.

7.Berenang di Air yang Sangat Dingin

Paparan air yang sangat dingin dapat menyebabkan pembuluh darah menyempit dan memicu perubahan tekanan darah serta respons tubuh terhadap dingin.

Pada orang dengan penyakit jantung tertentu, kondisi tersebut dapat memberikan tekanan tambahan pada sistem kardiovaskular.

Jika ingin berenang, pilih lingkungan dengan suhu air yang sesuai dan hindari berenang sendirian, terutama jika memiliki kondisi jantung yang berisiko menyebabkan pingsan atau gangguan irama.

8.Olahraga Bela Diri dengan Intensitas Tinggi

Tinju, taekwondo, judo, dan olahraga bela diri lainnya dapat melibatkan latihan fisik intens, gerakan eksplosif, serta kontak langsung.

Saat pertandingan, tubuh juga dapat mengalami peningkatan adrenalin yang menyebabkan detak jantung dan tekanan darah meningkat.

Karena itu, olahraga bela diri dengan intensitas tinggi atau pertandingan kompetitif perlu mendapatkan persetujuan dokter terlebih dahulu jika Anda memiliki penyakit jantung.

Apa Risiko Berolahraga Terlalu Berat bagi Penderita Penyakit Jantung?

Olahraga yang terlalu berat dan tidak sesuai dengan kondisi kesehatan dapat menyebabkan gejala atau komplikasi tertentu. Risiko yang mungkin terjadi antara lain:

  • Nyeri atau rasa tertekan di dada.
  • Sesak napas yang berlebihan.
  • Pusing atau kehilangan kesadaran.
  • Gangguan irama jantung.
  • Jatuh dan mengalami cedera akibat pingsan.
  • Memburuknya kondisi jantung yang sudah ada.

Risiko tersebut tidak sama pada setiap orang. Jenis penyakit jantung, tingkat keparahan, obat yang digunakan, kebugaran tubuh, dan kondisi kesehatan secara keseluruhan perlu dipertimbangkan sebelum menentukan jenis olahraga.

Apakah Penderita Penyakit Jantung Tetap Boleh Berolahraga?

Ya. Banyak penderita penyakit jantung justru dianjurkan untuk tetap aktif secara fisik, tetapi jenis, durasi, dan intensitas olahraga harus disesuaikan.

Beberapa aktivitas yang umumnya lebih mudah dikontrol intensitasnya antara lain:

  • Jalan kaki.
  • Bersepeda dengan intensitas ringan.
  • Senam yang dirancang untuk kesehatan jantung.
  • Peregangan dan latihan fleksibilitas.
  • Latihan kekuatan dengan beban ringan sesuai anjuran.

Pada sebagian orang, program rehabilitasi jantung dapat menjadi pilihan untuk memulai aktivitas fisik secara lebih terstruktur dan terpantau.

Tips Aman Berolahraga jika Memiliki Penyakit Jantung

Agar aktivitas fisik lebih aman, perhatikan beberapa hal berikut:

  1. Konsultasikan jenis olahraga dengan dokter, terutama jika baru didiagnosis memiliki penyakit jantung.
  2. Mulai secara perlahan dan tingkatkan intensitas secara bertahap.
  3. Lakukan pemanasan sebelum berolahraga dan pendinginan setelahnya.
  4. Pilih intensitas yang sesuai dengan kemampuan tubuh.
  5. Jangan berolahraga ketika sedang demam, merasa sangat lemah, atau tidak enak badan.
  6. Pastikan tubuh mendapatkan cairan yang cukup.
  7. Hindari memaksakan diri untuk mencapai target latihan tertentu.
  8. Jika menggunakan obat jantung, ikuti aturan penggunaan yang diberikan dokter.

Kapan Harus Berhenti Berolahraga?

Segera hentikan aktivitas dan cari pertolongan medis jika saat berolahraga muncul gejala seperti nyeri atau tekanan di dada, sesak napas berat, pusing, pingsan, atau jantung berdebar tidak biasa.

Pada penderita penyakit jantung, tujuan olahraga bukan sekadar mencapai intensitas setinggi mungkin. Yang lebih penting adalah memilih aktivitas yang sesuai dengan kondisi tubuh dan menjalankannya secara aman serta konsisten.

Karena kondisi setiap penderita penyakit jantung berbeda, sebaiknya konsultasikan rencana olahraga dengan dokter sebelum memulai latihan berintensitas tinggi atau olahraga kompetitif.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....