Brain Rot, Ancaman Baru di Era Media Sosial
- 09 Jul 2026 08:35 WIB
- Bengkalis
RRI.CO.ID, Bengkalis – Kebiasaan menghabiskan waktu berjam-jam untuk menggulir media sosial seperti TikTok, Instagram, maupun platform digital lainnya ternyata tidak hanya memengaruhi produktivitas, tetapi juga dapat berdampak pada fungsi otak. Kondisi yang belakangan dikenal dengan istilah brain rot atau "otak tumpul" menjadi perhatian para ahli kesehatan karena berkaitan dengan perubahan cara kerja otak akibat paparan konten digital yang berlebihan.
Dokter Spesialis Saraf, dr. Lilir Amalini, Sp.N, CFIDN, AIFO-K, menjelaskan bahwa brain rot bukan merupakan diagnosis medis, melainkan istilah populer yang menggambarkan penurunan fungsi kognitif akibat overstimulasi dari media sosial.
"Gejalanya seperti mudah bosan, sulit fokus, motivasi menurun, hingga merasa otaknya menjadi tumpul. Kondisi ini banyak dipicu oleh kebiasaan scrolling media sosial secara berlebihan, terutama mengonsumsi konten-konten pendek yang terus berganti," ujarnya.
Menurut dr. Lilir, secara medis kondisi tersebut berkaitan dengan dopamin, yaitu neurotransmiter atau zat kimia di otak yang berperan dalam sistem penghargaan (reward system), motivasi, fokus, serta kemampuan belajar.
Ia menjelaskan, setiap kali seseorang menemukan konten yang menarik, otak akan melepaskan dopamin sehingga muncul rasa senang. Namun, jika paparan itu terjadi terus-menerus dalam waktu lama, sensitivitas otak terhadap dopamin akan menurun.
"Konten pendek di media sosial memberikan lonjakan dopamin yang cepat dan instan. Lama-kelamaan otak membutuhkan stimulasi yang lebih besar untuk mendapatkan rasa puas yang sama. Akibatnya seseorang menjadi semakin sulit lepas dari kebiasaan scrolling," katanya.
Lebih lanjut, dr. Lilir mengatakan, penelitian di bidang neurobiologi menunjukkan bahwa overstimulasi dopamin dalam jangka panjang dapat memengaruhi fungsi kognitif seseorang. Dampaknya antara lain sulit berkonsentrasi, mudah lupa, kemampuan mengambil keputusan menurun, emosi menjadi lebih labil, serta berkurangnya motivasi melakukan aktivitas yang membutuhkan konsentrasi seperti membaca buku, belajar, atau berolahraga.
Meski demikian, kondisi tersebut bukan berarti terjadi kerusakan otak yang bersifat permanen. Menurutnya, fungsi otak masih dapat dipulihkan dengan mengurangi paparan stimulasi berlebihan dari media sosial.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan di antaranya membatasi penggunaan media sosial sekitar 30 hingga 60 menit per hari, membiasakan membaca buku cetak, rutin berolahraga, mencukupi waktu tidur, serta melatih otak untuk mengerjakan satu aktivitas dalam satu waktu (single tasking).
"Berikan kesempatan kepada otak untuk beristirahat dari banjir informasi. Aktivitas sederhana seperti membaca buku, olahraga, dan tidur yang cukup dapat membantu mengembalikan keseimbangan fungsi otak," jelasnya.
dr. Lilir juga mengingatkan masyarakat agar lebih bijak dalam menggunakan gawai. Menurutnya, teknologi dan media sosial tetap memberikan manfaat apabila digunakan secara proporsional. Namun, ketika penggunaan gawai mulai mengganggu konsentrasi, produktivitas, hingga kesehatan mental, hal tersebut menjadi sinyal bahwa otak membutuhkan waktu untuk beristirahat.
Ia berharap masyarakat semakin menyadari pentingnya menjaga kesehatan otak, tidak hanya melalui pola makan dan olahraga, tetapi juga dengan mengendalikan kebiasaan mengonsumsi informasi di era digital.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....