Kenali PerbedaaMigrain atau Vertigo sebelum Salah Minum Obat

  • 09 Jul 2026 08:26 WIB
  •  Bengkalis

RRI.CO.ID, Bengkalis – Banyak masyarakat masih menganggap migrain dan vertigo sebagai kondisi yang sama karena sama-sama menimbulkan rasa pusing. Padahal, keduanya merupakan gangguan yang berbeda, baik dari penyebab, gejala, maupun penanganannya.

Kesalahan mengenali gejala bahkan dapat menyebabkan seseorang mengonsumsi obat yang tidak sesuai. Dokter Spesialis Saraf, dr. Lilir Amalini, Sp.N, CFIDN, AIFO-K, menjelaskan bahwa hal pertama yang perlu dipahami adalah membedakan antara pusing dan sakit kepala.

"Vertigo adalah gangguan keseimbangan. Penderitanya bisa merasa melayang, tidak stabil, atau merasa lingkungan di sekitarnya berputar. Sedangkan migrain merupakan sakit kepala yang berdenyut, biasanya terasa di salah satu sisi kepala," jelasnya, Rabu 8 Juli 2026.

Menurut dr. Lilir, vertigo umumnya disertai keluhan mual, muntah, hingga sulit berdiri karena sensasi berputar yang cukup hebat. Sementara pada migrain, penderita lebih sering merasakan nyeri kepala berdenyut yang dapat disertai sensitivitas terhadap cahaya maupun suara.

Ia mengatakan, penyebab migrain cukup beragam. Pada perempuan, perubahan hormon menjadi salah satu pemicu yang paling sering ditemukan. Selain itu, kurang tidur, dehidrasi, stres, hingga makanan tertentu juga dapat memicu serangan migrain.

"Ada beberapa makanan yang diketahui dapat memicu migrain pada sebagian orang, seperti keju, cokelat, mentega, dan kacang-kacangan. Karena itu penting mengenali pemicu masing-masing agar serangan tidak mudah kambuh," ujarnya.

Sementara itu, vertigo lebih banyak berkaitan dengan gangguan pada sistem keseimbangan tubuh. Gangguan tersebut dapat berasal dari telinga bagian dalam, mata, hingga otot leher. Menurut dr. Lilir, pada pekerja kantoran, vertigo sering dipicu oleh postur tubuh yang kurang baik saat bekerja dalam waktu lama di depan komputer.

"Otot leher yang tegang akibat terlalu lama mengetik atau bekerja di depan layar dapat mengganggu sistem keseimbangan sehingga memicu vertigo," katanya.

Karena penyebabnya berbeda, pengobatan migrain dan vertigo juga tidak sama. Obat pereda nyeri yang umum dikonsumsi masyarakat lebih banyak digunakan untuk mengatasi sakit kepala seperti migrain, sedangkan vertigo memerlukan obat yang bekerja pada sistem keseimbangan sesuai anjuran tenaga medis.

Ia mengingatkan masyarakat agar tidak terbiasa mengonsumsi obat pereda nyeri secara berlebihan tanpa pemeriksaan dokter. Kebiasaan tersebut justru dapat memicu medication overuse headache, yaitu sakit kepala yang muncul akibat penggunaan obat yang terlalu sering.

"Kalau migrain sudah kambuh lebih dari dua kali dalam seminggu, sebaiknya segera berkonsultasi ke dokter saraf. Jangan hanya mengandalkan obat yang dijual bebas," tegasnya.

Selain pengobatan, dr. Lilir menyarankan masyarakat menerapkan pola hidup sehat untuk mencegah kekambuhan, seperti mencukupi waktu tidur, mengelola stres, menjaga tubuh tetap terhidrasi, rutin berolahraga, serta menghindari makanan atau kondisi yang menjadi pemicu masing-masing.

Dengan mengenali perbedaan migrain dan vertigo sejak dini, masyarakat diharapkan tidak salah mengartikan gejala maupun memilih pengobatan, sehingga penanganan dapat dilakukan secara tepat dan risiko komplikasi dapat dicegah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....