Pola Asuh Orang Tua Berpengaruh Besar terhadap Kesehatan Mental Anak

  • 06 Jun 2026 21:43 WIB
  •  Bengkalis

RRI.CO.ID, Bengkalis– Kesehatan mental anak tidak hanya dipengaruhi oleh lingkungan pergaulan atau perkembangan teknologi, tetapi juga sangat ditentukan oleh pola asuh yang diterapkan di dalam keluarga. Cara orang tua berkomunikasi, mendidik, hingga memperlakukan anak sejak kecil dapat memberikan dampak yang bertahan hingga dewasa.

Hal tersebut disampaikan psikiater dr. Vivi Syarif dalam podcast di kanal YouTube Helmy Yahya Bicara. Menurutnya, banyak masalah psikologis yang dialami seseorang saat dewasa ternyata berakar dari pengalaman masa kecil yang kurang menyenangkan.

Dr. Vivi menjelaskan keluarga merupakan lingkungan pertama yang membentuk karakter dan cara berpikir seorang anak. Ketika anak tumbuh dalam suasana yang penuh dukungan, penghargaan, dan komunikasi yang sehat, mereka cenderung memiliki kondisi mental yang lebih kuat saat menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Sebaliknya, anak yang sering mendapatkan tekanan, kritik berlebihan, atau minim apresiasi berpotensi mengalami berbagai masalah psikologis di kemudian hari.

"Kadang-kadang orang tua tidak sadar bahwa ucapan dan perlakuan mereka bisa membekas sangat lama pada anak," ujarnya.

Menurut dr. Vivi, salah satu kesalahan yang masih sering terjadi adalah kebiasaan membandingkan anak dengan saudara atau teman sebayanya. Tujuannya mungkin untuk memotivasi, tetapi dampaknya justru dapat membuat anak merasa tidak berharga dan kehilangan kepercayaan diri.

Selain itu, pola asuh yang terlalu keras juga dapat meninggalkan luka emosional yang terbawa hingga dewasa. Anak yang tumbuh dalam lingkungan yang penuh tekanan sering kali menjadi pribadi yang mudah cemas, takut gagal, dan kesulitan mengekspresikan perasaannya.

Dalam dunia psikologi, kondisi tersebut dikenal sebagai bagian dari generational trauma atau trauma yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Trauma tidak selalu berupa kekerasan fisik, tetapi juga dapat muncul melalui pola komunikasi yang buruk, kurangnya kasih sayang, maupun tuntutan yang berlebihan.

Dr. Vivi menilai salah satu kebutuhan terbesar anak adalah merasa diterima dan didengarkan oleh orang tuanya. Karena itu, komunikasi yang terbuka menjadi faktor penting dalam menjaga kesehatan mental anak.

Orang tua diharapkan tidak hanya fokus pada prestasi akademik, tetapi juga memperhatikan kondisi emosional anak. Memberikan ruang bagi anak untuk menyampaikan pendapat, keluhan, atau perasaannya dapat membantu mereka tumbuh menjadi pribadi yang lebih sehat secara mental.

Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini, keluarga seharusnya menjadi tempat paling aman untuk pulang dan berbagi cerita.

"Kita perlu lebih banyak mendengar anak. Jangan selalu menghakimi atau langsung menyalahkan ketika mereka bercerita," kata dr. Vivi.

Melalui pola asuh yang penuh empati, komunikasi yang hangat, serta dukungan yang konsisten, orang tua dapat membantu membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki kesehatan mental yang baik.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....