Generasi Z Rentan Cemas karena Terlalu Sering Membandingkan Diri
- 06 Jun 2026 21:41 WIB
- Bengkalis
RRI.CO.ID, Bengkalis – Media sosial telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan Generasi Z. Namun di balik kemudahan akses informasi dan komunikasi, muncul tantangan baru yang berdampak pada kesehatan mental, salah satunya kecemasan akibat terlalu sering membandingkan diri dengan orang lain.
Dalam podcast di kanal YouTube Helmy Yahya Bicara, psikiater dr. Vivi Syarif menjelaskan Generasi Z tumbuh di era digital yang memungkinkan mereka melihat kehidupan orang lain setiap saat. Kondisi ini membuat banyak anak muda tanpa sadar membandingkan pencapaian, gaya hidup, hingga kondisi finansial mereka dengan apa yang ditampilkan di media sosial.
Menurut dr. Vivi, apa yang terlihat di media sosial sering kali hanya menampilkan sisi terbaik seseorang. Namun tidak sedikit pengguna yang menganggapnya sebagai gambaran utuh kehidupan orang lain sehingga muncul perasaan tertinggal atau tidak cukup baik.
"Generasi Z sangat mudah membandingkan diri dengan orang-orang yang mereka lihat di media sosial. Mereka ingin sukses cepat, kaya cepat, tetapi ketika menghadapi kenyataan yang berbeda, mereka menjadi lebih rentan mengalami stres dan kecemasan," ujarnya.
Kebiasaan membandingkan diri tersebut dapat memicu berbagai masalah psikologis. Mulai dari rasa minder, rendah diri, hingga gangguan kecemasan atau anxiety yang semakin banyak ditemukan pada kalangan anak muda.
Selain itu, budaya serba cepat yang berkembang di era digital juga membuat sebagian Generasi Z memiliki ekspektasi tinggi terhadap diri sendiri. Mereka ingin mencapai kesuksesan dalam waktu singkat seperti yang sering ditampilkan dalam berbagai konten media sosial.
Padahal, menurut dr. Vivi, setiap orang memiliki perjalanan hidup yang berbeda. Kesuksesan tidak bisa diukur dengan standar yang sama karena setiap individu memiliki latar belakang, kesempatan, dan tantangan yang berbeda pula.
Ia mengingatkan bahwa terlalu fokus pada pencapaian orang lain justru dapat menghambat proses pengembangan diri. Seseorang menjadi lebih sibuk membandingkan hasil daripada menikmati proses belajar dan bertumbuh.
Untuk menjaga kesehatan mental, dr. Vivi menyarankan agar masyarakat menggunakan media sosial secara lebih bijak. Salah satunya dengan membatasi waktu penggunaan media sosial serta lebih selektif dalam memilih konten yang dikonsumsi.
Selain itu, membangun rasa syukur dan fokus pada perkembangan diri sendiri dinilai penting untuk mengurangi tekanan akibat perbandingan sosial yang berlebihan.
Menurutnya, media sosial seharusnya menjadi sarana untuk belajar, mencari inspirasi, dan memperluas wawasan, bukan menjadi sumber kecemasan yang membuat seseorang kehilangan rasa percaya diri.
"Setiap orang memiliki waktunya masing-masing. Tidak perlu merasa tertinggal hanya karena melihat orang lain mencapai sesuatu lebih dulu," kata dr. Vivi.
Melalui pemahaman tersebut, Generasi Z diharapkan dapat memanfaatkan media sosial secara sehat sehingga tetap produktif tanpa terjebak dalam kecemasan akibat terlalu sering membandingkan diri dengan orang lain.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....