Polusi Udara Ancam Semua Usia

  • 31 Mei 2026 21:45 WIB
  •  Bengkalis

RRI.CO.ID, Jakarta – Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Prof. Dante Saksono Harbuwono, menegaskan pentingnya penguatan sistem peringatan dini polusi udara berbasis data terpadu guna melindungi masyarakat dari dampak kesehatan akibat pencemaran udara.

Wamenkes menekankan bahwa polusi udara merupakan ancaman kesehatan serius yang berdampak pada seluruh kelompok usia. Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sembilan dari sepuluh orang di dunia hidup di wilayah dengan kualitas udara yang tidak sehat.

“Anak-anak berisiko terkena pneumonia hingga gangguan tumbuh kembang. Lansia menghadapi risiko penurunan fungsi organ. Pasien penyakit kronis rentan mengalami perburukan dan komplikasi. Sementara pekerja di luar ruangan berisiko mengalami penyakit paru obstruktif kronis atau PPOK,” ujar Dante, Sabtu 30 Mei 2026.

Ia menggambarkan kondisi polusi udara melalui fenomena yang kerap dialami masyarakat Jabodetabek. Menurutnya, pada pagi hari setelah hujan deras, masyarakat dapat melihat Gunung Salak dan Gunung Gede dengan jelas. Namun pada hari-hari biasa, pemandangan tersebut sering tertutup lapisan kabut abu-abu yang sebenarnya merupakan polusi udara.

Dante menjelaskan bahwa Kementerian Kesehatan terus memperkuat transformasi sistem kesehatan untuk menghadapi dampak polusi udara, baik melalui upaya promotif, preventif, maupun peningkatan kesiapan layanan kesehatan. Namun, ia menilai masih terdapat tantangan besar berupa belum terintegrasinya data kualitas udara dengan data dampak kesehatan masyarakat secara langsung.

“Celah inilah yang menjadi peluang kita untuk sama-sama memperkuat sistem peringatan dini melalui integrasi data yang kuat,” katanya.

Melalui seminar tersebut, Wamenkes berharap lahir rekomendasi kebijakan yang dapat mendorong pengembangan sistem peringatan dini polusi udara yang berbasis data, responsif, dan berorientasi jangka panjang.

“Melalui sistem peringatan dini yang baik, kita dapat merespons risiko polusi udara lebih cepat dan tepat serta melindungi kelompok rentan. Demi mewujudkan Indonesia yang tidak hanya maju dan mandiri, tetapi juga sehat dan lestari,” tuturnya.

Sementara itu, Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Prof. Dr. Indri Hapsari Susilowati, menegaskan bahwa isu kesehatan saat ini tidak dapat dipisahkan dari kondisi lingkungan dan perubahan ekosistem. Menurutnya, seminar ini menjadi ruang kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat pembelajaran, kebijakan, dan aksi nyata dalam pengendalian polusi udara.

Ia berharap kegiatan tersebut mampu menghasilkan gagasan dan langkah strategis yang bermanfaat bagi peningkatan kualitas kesehatan masyarakat sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan hidup di Indonesia.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....