Dolar Menguat, Harga Obat di RSUD Bengkalis Naik 12 Persen
- 20 Mei 2026 18:06 WIB
- Bengkalis
RRI.CO.ID, Bengkalis - Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai berdampak pada berbagai sektor, termasuk harga obat-obatan di rumah sakit. Kondisi tersebut turut dirasakan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bengkalis, yang mengalami kenaikan harga hampir pada sebagian besar jenis obat.
Kepala Ruangan Farmasi RSUD Bengkalis, Dolphin, mengatakan kenaikan harga obat telah terjadi dalam hampir dua bulan terakhir. Menurutnya, kondisi tersebut dipicu karena sebagian besar bahan baku obat masih bergantung pada impor dari luar negeri.
“Rata-rata bahan baku obat berasal dari luar negeri, sehingga pelemahan rupiah terhadap dolar sangat mempengaruhi harga obat-obatan saat ini,” ujar Dolphin, Rabu 20 Mei 2026.
Ia menyebutkan, kenaikan harga tidak hanya terjadi pada satu atau dua jenis obat, melainkan hampir seluruh obat yang tersedia di instalasi farmasi RSUD Bengkalis.
“Kalau dirata-ratakan, sekitar 80 persen obat-obatan yang tersedia mengalami kenaikan harga,” jelasnya.
Dolphin menambahkan, rata-rata kenaikan harga obat saat ini mencapai sekitar 12 persen dibandingkan harga sebelumnya.
“Kenaikan harga obat-obatan ini berkisar sekitar 12 persen dari harga sebelumnya,” tambahnya.
Menurut Dolphin, kondisi tersebut masih berpotensi berlanjut apabila nilai tukar dolar terus mengalami penguatan. Sebab, industri farmasi nasional masih sangat bergantung pada bahan baku impor.
“Bisa jadi harga obat terus naik karena bahan baku obat kita dari luar negeri. Kalau pabrik mendapatkan bahan baku dengan harga mahal, tentu harga produk obat yang dijual juga ikut naik. Itu prinsip ekonomi,” terangnya.
Meski harga obat mengalami kenaikan, RSUD Bengkalis memastikan ketersediaan stok obat tetap aman dan disesuaikan dengan kebutuhan pelayanan pasien.
Wakil Direktur Administrasi dan Keuangan RSUD Bengkalis, Freddy Antoni, menegaskan pihak rumah sakit tidak akan melakukan pengurangan ataupun pembatasan pengadaan obat meskipun biaya pembelian meningkat.
“Pemesanan obat tetap kami lakukan sesuai kebutuhan. Tidak mungkin dilakukan pembatasan atau pengurangan karena kasihan pasien yang membutuhkan obat-obatan tersebut,” ujar Freddy Antoni.
Ia mengakui kenaikan harga obat berdampak langsung terhadap meningkatnya pengeluaran rumah sakit. Untuk mengantisipasi hal tersebut, pihak RSUD Bengkalis melakukan negosiasi dengan perusahaan pemasok obat terkait mekanisme pembayaran.
“Kami melakukan penyesuaian pola pembayaran melalui negosiasi dengan perusahaan supplier, sehingga pembayaran dapat diatur sesuai kemampuan rumah sakit namun kebutuhan obat tetap terpenuhi,” jelasnya.
Freddy menambahkan, penghematan dengan cara memangkas pembelian obat bukan menjadi solusi yang dapat dilakukan rumah sakit. Menurutnya, pelayanan kesehatan kepada masyarakat harus tetap menjadi prioritas utama.
“Pengurangan pembelian obat tidak mungkin dilakukan, karena obat harus tetap tersedia sesuai kebutuhan rumah sakit agar pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan maksimal,” tegasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....