Mengenal People Pleaser, Sikap Ingin Menyenangkan Semua Orang yang Perlu Dikendal

  • 16 Mei 2026 18:02 WIB
  •  Bengkalis

RRI.CO.ID, Bengkalis : Sikap ingin selalu menyenangkan orang lain atau dikenal dengan istilah people pleaser sering kali dianggap sebagai bentuk kepedulian dan kebaikan hati. Namun jika dilakukan secara berlebihan, kondisi ini dapat berdampak pada kesehatan mental dan kualitas hidup seseorang.

Dr. Nuryasni Yazid mengatakan, people pleaser merupakan perilaku ketika seseorang cenderung mengutamakan kebutuhan, keinginan, dan kenyamanan orang lain dibanding dirinya sendiri. Bahkan dalam banyak kasus, seseorang rela mengorbankan waktu, tenaga, hingga perasaannya demi mendapatkan penerimaan sosial.

Menurutnya, perilaku tersebut sering muncul karena adanya rasa takut ditolak, takut mengecewakan orang lain, atau keinginan kuat untuk dianggap baik oleh lingkungan sekitar.

“Orang yang memiliki kecenderungan people pleaser biasanya sulit mengatakan tidak. Mereka merasa tidak enak hati jika menolak permintaan orang lain, meskipun sebenarnya dirinya sedang lelah atau tidak mampu,” ujarnya.

Dr. Nuryasni menjelaskan, bila dibiarkan terus-menerus, sikap tersebut dapat memicu stres berkepanjangan, kelelahan emosional, hingga hilangnya jati diri. Seseorang menjadi terlalu fokus membahagiakan orang lain, tetapi lupa memperhatikan kebutuhan dirinya sendiri.

Ia menambahkan, menjaga hubungan baik dengan sesama memang penting, namun bukan berarti harus mengorbankan kesehatan mental dan kebahagiaan pribadi. Setiap orang tetap memiliki hak untuk menentukan batasan dalam kehidupan sosial.

“Belajar mengatakan tidak bukan berarti egois. Justru itu bagian dari menjaga diri agar tetap sehat secara mental dan emosional,” katanya.

Lebih lanjut, ia menyarankan masyarakat untuk mulai mengenali kemampuan dan kapasitas diri. Selain itu, penting membangun personal boundaries atau batasan sehat dalam hubungan sosial agar tidak mudah merasa terbebani.

Dr. Nuryasni juga mengingatkan agar seseorang tidak menggantungkan nilai dirinya dari penilaian orang lain. Menurutnya, rasa percaya diri dan penerimaan terhadap diri sendiri menjadi kunci agar tidak mudah terjebak dalam perilaku people pleaser.

“Ketika kita terlalu sibuk menyenangkan semua orang, sering kali kita lupa bertanya apakah diri sendiri sudah merasa bahagia atau belum,” ungkapnya.

Melalui pemahaman yang tepat, masyarakat diharapkan dapat lebih bijak dalam membangun hubungan sosial yang sehat, saling menghargai, namun tetap memberi ruang bagi diri sendiri untuk bertumbuh dan merasa nyaman.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....