Benarkah di Balik Penggunaan AI Ada Ribuan Ton Air yang Dibutuhkan

  • 30 Sep 2026 20:12 WIB
  •  Bengkalis

RRI.CO.ID, Bengkalis - Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) memungkinkan masyarakat membuat gambar hanya dengan memasukkan beberapa baris perintah. Namun, di balik kemudahan tersebut muncul pertanyaan mengenai dampak lingkungan teknologi AI.

Benarkah setiap kali membuat gambar menggunakan AI juga membutuhkan air? Jawabannya, benar bahwa pengoperasian AI memiliki jejak penggunaan air, tetapi bukan berarti air dituangkan langsung ke server setiap kali seseorang membuat satu gambar.

Dikutip dari Communications of the ACM, Lawrence Berkeley National Laboratory, Nature Reviews Clean Technology, dan jurnal Water Research, air terutama dibutuhkan dalam infrastruktur pusat data yang menjalankan berbagai layanan digital, termasuk AI. Komputer berperforma tinggi seperti GPU bekerja keras ketika memproses model AI dan menghasilkan panas. Panas tersebut harus dikendalikan agar perangkat tetap beroperasi secara aman dan efisien.

Sejumlah pusat data menggunakan sistem pendinginan yang melibatkan air. Dalam sistem pendinginan evaporatif, misalnya, sebagian air menguap ketika membantu membuang panas dari fasilitas.

Penelitian mengenai jejak air AI yang dipublikasikan dalam Communications of the ACM menjelaskan bahwa model AI generatif beroperasi pada server yang membutuhkan energi besar. Jejak air AI dapat berasal dari penggunaan air untuk mendinginkan server serta air yang berkaitan dengan pembangkitan listrik.

Dengan kata lain, saat pengguna meminta AI menghasilkan gambar, server melakukan komputasi. Komputasi membutuhkan listrik dan menghasilkan panas. Pada pusat data tertentu, proses membuang panas tersebut melibatkan penggunaan air.

Penggunaan air sebenarnya bukan hanya terjadi ketika seseorang membuat gambar AI. Berbagai aktivitas digital yang menggunakan pusat data juga memiliki jejak energi dan air.

Namun, komputasi AI dapat membutuhkan sumber daya yang lebih besar dibandingkan sejumlah aktivitas digital sederhana. Pengembangan dan pelatihan model AI berskala besar juga membutuhkan komputasi dalam jumlah sangat besar.

Penelitian Pengfei Li, Jianyi Yang, Mohammad A. Islam dan Shaolei Ren memperkirakan pelatihan GPT-3 di pusat data Microsoft di Amerika Serikat dapat secara langsung mengonsumsi sekitar 700 ribu liter air bersih melalui proses pendinginan. Angka tersebut merupakan estimasi untuk pelatihan sebuah model besar, bukan jumlah air yang dibutuhkan untuk membuat satu gambar AI.

Berapa Liter Air untuk Satu Gambar AI? Pertanyaan inilah yang tidak bisa dijawab dengan satu angka yang berlaku universal. Besarnya jejak air sebuah permintaan AI bergantung pada banyak faktor, mulai dari model yang digunakan, jenis perangkat keras, lama proses komputasi, lokasi pusat data, cuaca, sistem pendinginan hingga sumber listrik.

Karena itu, klaim di media sosial seperti “satu gambar AI menghabiskan satu botol air” perlu disikapi secara hati-hati.

Penelitian mengenai jejak air AI sebelumnya memperkirakan sekitar 500 mililiter air dapat berkaitan dengan pemrosesan puluhan respons teks berukuran sedang dalam kondisi tertentu. Namun, angka tersebut tidak dapat begitu saja digunakan untuk menyatakan bahwa satu gambar atau satu pertanyaan AI selalu menghabiskan air dalam jumlah tertentu.

Penelitian terbaru juga menekankan bahwa jejak air AI sangat bergantung pada bagaimana dan di mana komputasi dilakukan.

Jejak air pusat data juga tidak hanya berasal dari pendinginan di lokasi. Pembangkit listrik yang memasok energi ke pusat data dapat menggunakan air dalam proses operasionalnya. Selain itu, pembuatan semikonduktor dan chip yang digunakan untuk menjalankan AI juga mempunyai jejak air tersendiri.

Dengan demikian, jejak air AI dapat dibagi menjadi penggunaan langsung untuk pendinginan pusat data dan penggunaan tidak langsung melalui listrik serta rantai produksi perangkat keras.

Meningkatnya penggunaan AI membuat efisiensi energi dan air menjadi perhatian penting dalam pembangunan pusat data. Berbagai teknologi pendinginan dikembangkan untuk mengurangi kebutuhan sumber daya, termasuk sistem pendinginan cairan yang lebih efisien, penggunaan kembali air, serta pembangunan pusat data di lokasi yang memungkinkan pendinginan dilakukan dengan konsumsi air lebih rendah.

Kajian Nature Reviews Clean Technology pada 2026 menyebut pertumbuhan pusat data untuk mendukung AI telah meningkatkan kekhawatiran terhadap konsumsi energi, tekanan terhadap jaringan listrik, dan sumber daya air tawar.

Membuat gambar menggunakan AI membutuhkan komputasi di pusat data. Komputasi menghasilkan panas dan membutuhkan listrik, sementara sebagian pusat data menggunakan air dalam sistem pendinginannya.

Namun, tidak tepat menyimpulkan bahwa setiap satu gambar AI selalu menghabiskan air dalam jumlah tertentu. Jejak airnya dapat berbeda secara signifikan tergantung teknologi, lokasi, sumber energi dan sistem pendinginan pusat data.

Di balik gambar AI yang dapat dibuat hanya dalam hitungan detik, terdapat infrastruktur komputer, energi dan sistem pendinginan yang bekerja untuk memproses permintaan pengguna. Karena itu, penggunaan AI yang semakin luas turut mendorong perhatian terhadap bagaimana teknologi tersebut dapat dikembangkan dengan penggunaan energi dan air yang semakin efisien.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....