Waspada Malware Android, Bisa Intip Pesan WhatsApp hingga Bobol Rekening
- 27 Agt 2026 20:21 WIB
- Bengkalis
RRI.CO.ID, Bengkalis - Pengguna ponsel Android perlu semakin berhati-hati saat mengunduh aplikasi atau membuka tautan yang dikirim melalui pesan. Sejumlah malware Android kini memiliki kemampuan yang semakin berbahaya, mulai dari membaca pesan pribadi, mengambil data perbankan, hingga mengambil alih perangkat korban.
Dikutip dari Google Security Blog dan Google Trust & Safety; laporan penelitian keamanan mengenai trojan Sturnus; serta laporan perkembangan ancaman malware Android 2026, salah satu ancaman yang pernah ditemukan peneliti keamanan adalah Sturnus, trojan perbankan Android yang mampu menangkap pesan dari aplikasi komunikasi seperti WhatsApp, Telegram, dan Signal setelah pesan tersebut didekripsi dan ditampilkan pada perangkat korban. Malware ini juga dirancang untuk mencuri informasi perbankan dan memungkinkan pelaku melakukan pengambilalihan perangkat.
Ancaman semacam ini menjadi perhatian karena aplikasi percakapan seperti WhatsApp menggunakan enkripsi end-to-end. Namun, malware tidak harus memecahkan sistem enkripsi tersebut. Jika telah mendapatkan akses yang cukup luas ke perangkat, malware dapat mengintip informasi ketika pesan sudah muncul di layar ponsel korban.
Bahaya malware Android tidak berhenti pada pencurian percakapan. Trojan perbankan dapat menggunakan berbagai teknik untuk memperoleh informasi sensitif, termasuk kredensial yang digunakan korban untuk mengakses layanan keuangan.
Google sendiri mengingatkan bahwa aplikasi berbahaya yang memperoleh izin sensitif, terutama Accessibility, dapat memperoleh akses lebih dalam terhadap perangkat dan mencuri data pribadi, termasuk informasi perbankan.
Modus serupa masih menjadi ancaman hingga 2026. Pada Agustus tahun ini, kampanye malware Android yang menyamar sebagai aplikasi berbagai merek dilaporkan dapat memata-matai pengguna melalui kamera dan mikrofon, mencegat komunikasi, serta berupaya melewati perlindungan autentikasi untuk melakukan pencurian finansial. Kampanye tersebut antara lain menyebar melalui pesan SMS, WhatsApp, dan media sosial.
Salah satu pintu masuk yang perlu diwaspadai adalah pemasangan aplikasi dari luar toko aplikasi resmi atau dikenal sebagai sideloading. Pelaku dapat mengirimkan pesan yang dibuat seolah-olah berasal dari pihak terpercaya. Korban kemudian diarahkan mengunduh dan memasang file APK. Modusnya bisa menggunakan berbagai alasan, seperti undangan, paket, tagihan, aplikasi layanan tertentu, informasi pekerjaan, hingga promosi.
Google mengingatkan pengguna agar tidak mudah memasang aplikasi yang dikirim melalui browser, aplikasi pesan, atau sumber lain yang belum diperiksa keamanan dan privasinya. Android bahkan memiliki perlindungan yang dirancang untuk mencegah pengguna memberikan izin berisiko ketika diduga sedang diarahkan oleh penipu.
Setelah aplikasi terpasang, korban mungkin diminta memberikan berbagai izin, seperti akses SMS, notifikasi, kontak, kamera, mikrofon, atau Accessibility. Permintaan izin yang tidak sesuai dengan fungsi aplikasi patut dicurigai. Sebagai contoh, aplikasi sederhana yang tiba-tiba meminta akses SMS, kontak, atau kontrol penuh terhadap perangkat perlu diperiksa sebelum izin diberikan.
Google pada Juni 2026 kembali mengingatkan bahwa aplikasi berbahaya dapat meminta izin berlebihan untuk mengakses kontak, riwayat SMS, dan foto. Pengguna dianjurkan hanya memasang aplikasi melalui sumber resmi serta tidak memberikan akses terhadap data pribadi apabila tidak benar-benar diperlukan oleh fungsi aplikasi.
Pengguna Android dapat melakukan beberapa langkah sederhana untuk mengurangi risiko. Unduh aplikasi dari toko resmi seperti Google Play, aktifkan Google Play Protect, rutin memperbarui sistem operasi dan aplikasi, serta jangan sembarangan membuka tautan atau memasang APK yang dikirim melalui pesan.
Google menyebut Play Protect memindai lebih dari 350 miliar aplikasi Android setiap hari. Sepanjang 2025, Google juga mengklaim mencegah lebih dari 1,75 juta aplikasi yang melanggar kebijakan masuk ke Google Play dan memblokir lebih dari 80 ribu akun pengembang berbahaya.
Selain itu, jangan pernah memberikan PIN, kata sandi, kode OTP, atau informasi perbankan kepada orang lain. Aktifkan autentikasi tambahan pada akun penting dan perhatikan setiap notifikasi transaksi dari bank.
Jika mencurigai ponsel telah terinfeksi setelah memasang aplikasi tertentu, segera putuskan koneksi internet bila diperlukan, hapus aplikasi mencurigakan, periksa izin aplikasi, dan lakukan pemindaian keamanan.
Apabila terdapat indikasi informasi perbankan telah dicuri, segera hubungi bank melalui kanal resmi untuk mengamankan rekening. Ubah kata sandi akun penting menggunakan perangkat yang diyakini aman. Jika perangkat menunjukkan tanda pengambilalihan serius, pertimbangkan meminta bantuan teknisi terpercaya atau melakukan pengaturan ulang perangkat setelah data penting yang aman dicadangkan.
Ancaman malware Android mengingatkan kita keamanan digital tidak cukup hanya dengan memiliki kata sandi. Satu aplikasi berbahaya yang mendapatkan izin terlalu luas dapat membuka akses terhadap berbagai informasi pribadi. Karena itu, jangan terburu-buru mengeklik tautan, menginstal APK, atau memberikan izin aplikasi hanya karena pesan terlihat berasal dari orang atau lembaga yang dikenal.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....