Alasan saat Tawaf Pundak Kanan Laki-Laki Dibuka Dibalik Sunnah

  • 25 Agt 2026 00:31 WIB
  •  Bengkalis

RRI.CO.ID, Bengkalis - Pernahkah kita memperhatikan jemaah laki-laki ketika melakukan tawaf mengelilingi Ka'bah? Kain ihram yang dikenakan tampak berbeda dari biasanya. Bahu atau pundak sebelah kanan dibiarkan terbuka, sementara kain disampirkan melalui bawah ketiak kanan dan diletakkan di atas bahu kiri.

Dikutip dari website Kementerian Agama Republik Indonesia, Tuntunan Manasik Haji dan Umrah; Kementerian Agama Provinsi Riau; serta riwayat tentang idhthiba' dan ramal dalam pelaksanaan tawaf, ternyata, cara berpakaian tersebut bukan sekadar kebiasaan. Dalam ibadah haji dan umrah, hal itu dikenal dengan istilah idhthiba', salah satu sunnah tawaf bagi laki-laki.

Kementerian Agama Republik Indonesia juga menjelaskan idhthiba' sebagai cara mengenakan selendang dengan bagian tengah berada di bawah bahu atau ketiak kanan, kemudian kedua ujungnya diletakkan di atas bahu kiri sehingga bahu kanan terbuka.

Pada masa Rasulullah SAW, kaum Muslimin pernah dipandang oleh kaum musyrik Makkah sebagai kelompok yang lemah. Dalam sebuah riwayat yang menjelaskan pelaksanaan tawaf, Rasulullah SAW memerintahkan para sahabat untuk melakukan ramal, yaitu berjalan cepat dengan langkah pendek pada tiga putaran pertama.

Tujuannya antara lain agar kaum musyrik yang menyaksikan dari sekitar Makkah melihat bahwa kaum Muslimin tetap kuat dan tidak seperti yang mereka sangka. Praktik ramal tersebut kemudian berjalan bersama dengan idhthiba', yaitu membuka bahu kanan saat tawaf.

Dengan demikian, di balik sunnah tersebut terdapat pesan sejarah tentang keteguhan, keberanian dan kekuatan umat Islam. Para sahabat tidak ingin menunjukkan kelemahan di hadapan orang-orang yang memusuhi mereka. Mereka tetap tampil teguh dan kuat dalam menjalankan ibadah.

Cara tersebut disebut idhthiba'. Kain ihram bagian atas diletakkan di bawah ketiak kanan, kemudian kedua ujung kain disampirkan ke bahu kiri sehingga bahu kanan terbuka. Praktik ini memiliki dasar dari contoh Rasulullah SAW ketika melakukan tawaf.

Namun, perlu dipahami bahwa membuka bahu kanan bukan berarti seorang laki-laki harus selalu dalam keadaan demikian selama memakai ihram. Idhthiba' berkaitan dengan pelaksanaan tawaf tertentu. Setelah selesai tawaf, kain ihram kembali dikenakan dengan menutup kedua bahu.

Panduan manasik Kementerian Agama juga membedakan antara idhthiba' dan ramal. Idhthiba' dilakukan dengan membuka bahu kanan, sedangkan ramal adalah berjalan cepat pada tiga putaran pertama bagi laki-laki dalam kondisi tawaf yang disunnahkan.

Jika dilihat sekilas, membuka bahu kanan mungkin tampak seperti bagian kecil dari tata cara berpakaian saat tawaf. Tetapi di baliknya terdapat jejak sejarah perjuangan umat Islam.

Pesannya bukan tentang kesombongan atau pamer kekuatan. Justru sebaliknya, umat Islam diajarkan untuk memiliki keberanian, keteguhan dan keyakinan ketika menghadapi berbagai tekanan.

Idhthiba' juga menjadi pengingat bahwa ibadah haji dan umrah tidak hanya memiliki dimensi ritual, tetapi juga mengandung pelajaran sejarah. Setiap gerakan dan tata cara yang dicontohkan Rasulullah SAW mengingatkan umat Islam kepada perjuangan generasi awal dalam mempertahankan keimanan.

Jadi, ketika melihat jemaah laki-laki membuka bahu kanan saat tawaf, ingatlah bahwa itu bukan sekadar cara memakai kain ihram. Di balik sunnah tersebut terdapat keteladanan tentang keberanian, keteguhan dan semangat menunjukkan bahwa kaum Muslimin adalah umat yang kuat dalam menghadapi tantangan.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....