Petugas Haji sebagai Ujung Tombak, Itjen Tekankan Integritas dan Komitmen
- 31 Mar 2026 23:07 WIB
- Bengkalis
RRI.CO.ID, Jakarta - Pemerintah Republik Indonesia terus memperkuat skema layanan kesehatan bagi jemaah haji pada musim haji 1447 H/2026 M, menyusul kebijakan baru dari pemerintah Arab Saudi terkait rasio pelayanan kesehatan. Langkah ini bertujuan untuk memastikan jemaah mendapatkan layanan medis yang cepat, tepat, dan optimal selama menunaikan ibadah haji.
Kepala Pusat Kesehatan Haji, Liliek Marhaendro Susilo, menjelaskan bahwa setiap klinik kesehatan kini minimal melayani 5.000 jemaah haji. Di Makkah, akan didirikan 40 klinik kesehatan yang tersebar di 10 sektor, sedangkan di Madinah tersedia 5 klinik di 5 sektor. Selain itu, masing-masing satu Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) juga akan beroperasi di kedua kota suci.
“Dengan penambahan klinik dan penguatan layanan di KKHI, kami berharap pelayanan kesehatan bagi jemaah semakin optimal,” ujar Liliek, Senin 30 Maret 2026.
Untuk meningkatkan ketepatan penanganan medis, petugas kesehatan kloter dibekali pedoman rujukan berbasis tingkat keparahan (severity level) penyakit. Sistem ini membantu menentukan apakah jemaah dirujuk ke KKHI atau langsung ke rumah sakit Arab Saudi, sehingga pertolongan dapat diberikan sesuai kondisi kesehatan masing-masing jemaah.
“Pendekatan severity level ini penting agar jemaah mendapatkan pertolongan yang cepat dan sesuai dengan kondisi kesehatannya,” kata Liliek.
Selain itu, pemerintah Arab Saudi mewajibkan supervisi dari penyedia layanan kesehatan swasta terakreditasi. Pada musim haji tahun ini, pengawasan layanan kesehatan jemaah Indonesia akan dilakukan oleh Saudi German Hospital. Obat-obatan akan didistribusikan dari KKHI di Makkah dan Madinah ke seluruh tenaga kesehatan kloter yang mendampingi jemaah di hotel-hotel.
Liliek juga memberikan himbauan kesehatan bagi jemaah yang masih menunggu keberangkatan, menekankan pola hidup bersih dan sehat, seperti mencuci tangan sebelum makan, mengonsumsi makanan bergizi, serta berolahraga ringan minimal 30 menit setiap hari.
“Selain itu, jemaah perlu istirahat cukup, minimal enam jam tidur setiap malam, serta menjaga pikiran tetap positif,” tambahnya.
Bagi jemaah dengan penyakit penyerta atau komorbid, ia menekankan kepatuhan mengonsumsi obat sesuai resep dokter. Selain menjaga kesehatan fisik, Liliek juga mengajak jemaah memperkuat kesiapan spiritual melalui dzikir, doa, dan bertawakal kepada Allah SWT agar ibadah haji dapat berjalan lancar dan sehat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....