Jadi Bujang dan Dara, Beban atau Kebanggaan

  • 20 Jul 2026 18:27 WIB
  •  Bengkalis

RRI.CO.ID, Bengkalis – Menjadi Bujang dan Dara Kabupaten Bengkalis kerap dipandang sebagai ajang bergengsi yang identik dengan penampilan menarik dan popularitas. Namun, di balik sorotan tersebut, para finalis harus memikul tanggung jawab besar sebagai duta budaya, pariwisata, dan generasi muda.

Hal itu diungkapkan Finalis 12 Besar Dara Kabupaten Bengkalis 2026, Dini Atifa Aisyah, saat menjadi narasumber dalam program Obrolan Komunitas RRI Bengkalis. Menurut Dini, kesempatan menjadi finalis Bujang Dara bukanlah sebuah beban, melainkan kebanggaan yang patut disyukuri. Sebab, tidak semua anak muda memperoleh kesempatan untuk mewakili daerah sekaligus memperkenalkan potensi Bengkalis kepada masyarakat yang lebih luas.

"Kalau Dini sendiri merasa sangat bangga karena bisa menjadi salah satu anak muda yang dipercaya membawa nama Bengkalis di kesempatan ini. Kami bisa lebih mengenal pariwisata, budaya, dan potensi daerah sekaligus bertemu dengan teman-teman baru yang memiliki semangat yang sama," ujarnya, Senin 20 Juli 2026.

Dini mengatakan, masih banyak masyarakat yang beranggapan bahwa ajang Bujang dan Dara hanya menonjolkan paras cantik maupun tampan. Padahal, peserta dituntut memiliki wawasan yang luas, kemampuan berkomunikasi di depan publik, pemahaman terhadap budaya Melayu, hingga kepedulian dalam mempromosikan daerah.

Menurutnya, menjadi Bujang dan Dara berarti siap menjadi teladan bagi generasi muda. Oleh karena itu, setiap finalis harus terus belajar dan mengembangkan diri agar mampu menjalankan amanah tersebut dengan baik.

Selain itu, Dini mengakui perjalanan menuju grand final tidak selalu mudah. Ia harus membagi waktu antara pekerjaan, perkuliahan, serta berbagai persiapan menuju malam puncak pemilihan. Meski demikian, tantangan tersebut justru menjadi pengalaman berharga yang membentuk kedisiplinan dan rasa tanggung jawab.

Ia juga menilai dukungan keluarga menjadi faktor penting yang membuatnya tetap percaya diri mengikuti seluruh tahapan seleksi. Awalnya, orang tuanya sempat mempertanyakan kemampuannya membagi waktu. Namun setelah dijelaskan bahwa ajang tersebut akan memberikan pengalaman dan kesempatan untuk mengembangkan potensi diri, keluarga akhirnya memberikan dukungan penuh.

Dini menambahkan, salah satu tantangan terbesar bukan hanya menjaga penampilan, tetapi juga membangun mental agar mampu tampil percaya diri di hadapan banyak orang. Kemampuan berbicara, mengelola rasa gugup, hingga menjalin komunikasi dengan berbagai kalangan menjadi proses pembelajaran yang terus ia jalani.

Menjelang grand final yang dijadwalkan berlangsung pada 29 Juli 2026, Dini memilih mempersiapkan diri dengan menjaga kesehatan, mengatur pola makan, berlatih public speaking, serta memperdalam pengetahuan mengenai budaya dan pariwisata Kabupaten Bengkalis.

Ia berharap masyarakat tidak lagi memandang ajang Bujang dan Dara hanya sebagai kompetisi kecantikan atau ketampanan semata. Lebih dari itu, ajang tersebut merupakan wadah pembinaan generasi muda agar memiliki karakter, wawasan, serta kepedulian dalam melestarikan budaya Melayu dan mempromosikan potensi daerah.

Melalui ajang ini, Dini berharap semakin banyak anak muda Bengkalis yang berani mengembangkan potensi diri, mengambil peluang, dan berkontribusi positif bagi daerah. Baginya, menjadi Bujang dan Dara bukanlah beban, melainkan sebuah kehormatan sekaligus tanggung jawab untuk menjadi wajah terbaik Kabupaten Bengkalis di berbagai kesempatan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....