Bujang Dara Bukan Sekadar Penampilan, tetapi Duta Budaya Bengkalis
- 20 Jul 2026 21:03 WIB
- Bengkalis
RRI.CO.ID, Bengkalis – Ajang pemilihan Bujang dan Dara Kabupaten Bengkalis selama ini kerap dipersepsikan sebagai kompetisi yang hanya mengutamakan penampilan fisik. Padahal, para finalis dituntut memiliki kemampuan yang jauh lebih luas, mulai dari public speaking, wawasan budaya, hingga kemampuan mempromosikan potensi daerah kepada masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Finalis 12 Besar Dara Kabupaten Bengkalis 2026, Dini Atifa Aisyah, dalam program Obrolan Komunitas RRI Bengkalis. Menurutnya, persepsi bahwa Bujang dan Dara hanya ajang mencari peserta yang cantik dan tampan sudah saatnya diluruskan.
Dini mengatakan, selama mengikuti proses seleksi, para peserta tidak hanya dinilai dari penampilan, tetapi juga kemampuan berkomunikasi, pengetahuan tentang budaya Melayu, pariwisata, hingga kesiapan menjadi representasi Kabupaten Bengkalis dalam berbagai kegiatan.
"Orang sering mengira Bujang dan Dara itu hanya soal cantik atau ganteng. Padahal kami belajar public speaking, etika, budaya Melayu, pariwisata, sampai bagaimana memperkenalkan daerah kepada masyarakat luas," ujarnya, Senin 20 Juli 2026.
Menurutnya, sebagai generasi muda, finalis Bujang dan Dara memiliki tanggung jawab moral untuk ikut menjaga identitas budaya Melayu di tengah derasnya pengaruh budaya luar. Kehadiran Bujang dan Dara diharapkan mampu menjadi contoh sekaligus mengajak anak-anak muda agar lebih mengenal dan mencintai budaya daerahnya sendiri.
Ia menilai, pelestarian budaya tidak cukup hanya dilakukan melalui kegiatan seremonial, tetapi juga harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya dengan memperkenalkan adat istiadat, bahasa, kuliner, hingga destinasi wisata yang dimiliki Kabupaten Bengkalis kepada masyarakat, khususnya generasi muda.
Dini menambahkan, kemampuan berbicara di depan umum menjadi salah satu bekal penting yang terus diasah selama mengikuti proses menuju grand final. Kemampuan tersebut diperlukan agar seorang Bujang dan Dara mampu menyampaikan informasi mengenai potensi daerah secara baik ketika menghadiri berbagai kegiatan resmi maupun berinteraksi dengan masyarakat.
Selain itu, para finalis juga dibekali pemahaman mengenai etika dan tata krama sebagai representasi daerah. Menurutnya, seorang duta daerah harus mampu menjaga sikap, perilaku, serta tutur kata karena akan menjadi contoh bagi masyarakat.
"Bukan hanya saat memakai selempang saja, tetapi setelah itu kita juga harus tetap menjaga sikap. Karena masyarakat akan melihat kita sebagai bagian dari wajah Kabupaten Bengkalis," katanya.
Dini berharap semakin banyak generasi muda yang tertarik mengikuti ajang Bujang dan Dara sebagai wadah pengembangan diri. Ia meyakini setiap anak muda memiliki kesempatan yang sama selama memiliki kemauan untuk belajar dan berkontribusi bagi daerah.
Menjelang grand final yang dijadwalkan berlangsung pada 29 Juli 2026, Dini bersama finalis lainnya terus mempersiapkan diri melalui berbagai pembekalan, mulai dari penguatan kemampuan komunikasi, pendalaman materi budaya dan pariwisata, hingga latihan menghadapi sesi penjurian.
Ia berharap masyarakat dapat memberikan dukungan kepada seluruh finalis, karena ajang Bujang dan Dara bukan sekadar kompetisi memilih yang terbaik, tetapi juga menjadi proses mencetak generasi muda yang siap menjadi duta budaya, pariwisata, dan promosi Kabupaten Bengkalis di tingkat yang lebih luas.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....