Cahaya Mengaji Al-Quran dari Rumah Sederhana di Kampung Suka Damai
- 25 Agt 2026 21:05 WIB
- Bengkalis
RRI.CO.ID, Bengkalis- Menjelang azan Magrib berkumandang, suasana sebuah rumah sederhana milik Pak Syarif di Kampung Suka Damai, Kecamatan Rupat Utara, Kabupaten Bengkalis, Riau, perlahan berubah ramai. Satu per satu anak-anak datang dari berbagai penjuru kampung. Ada yang berjalan kaki, ada pula yang diantar orang tuanya.
Mereka datang dengan pakaian terbaik untuk menghadap Sang Pencipta dan membaca Firman Nya. Anak laki-laki mengenakan baju muslim lengkap dengan peci di kepala. Sementara anak-anak perempuan tampak anggun dengan mukena yang telah dikenakannya sejak dari rumah.
Rumah sederhana itu bukan sekadar tempat tinggal bagi keluarga Pak Syarif. Selama puluhan tahun, rumah tersebut menjadi tempat anak-anak Kampung Suka Damai belajar mengenal huruf-huruf Al-Qur'an, mengeja ayat demi ayat, dan perlahan belajar mencintai kitab suci.

Begitu azan Magrib berkumandang, anak-anak mengambil posisi untuk melaksanakan salat berjamaah di rumah Pak Syarif. Seusai salat, kegiatan belum berakhir. Mereka mengambil Al-Qur'an masing-masing, meletakkannya di atas rekal atau alas, kemudian duduk rapi menunggu giliran membaca.
Suasana pun berubah menjadi lantunan ayat-ayat suci. Suara anak-anak yang membaca Al-Qur'an bersahut-sahutan dengan suara mereka yang masih terbata-bata mengeja buku Iqra.
Di tengah suasana itu, keluarga Pak Syarif bergantian membimbing mereka. Satu per satu anak dipanggil untuk menghadap guru ngaji. Bacaan mereka disimak dengan teliti. Jika ada makhraj atau bacaan yang kurang tepat, guru membetulkannya dengan sabar. Anak-anak kembali mengulang hingga mampu membacanya dengan benar.

Keluarga Pak Syarif memiliki kedekatan dengan dunia pendidikan agama. Anak-anak Pak Syarif semuanya bersekolah di pesantren. Pengetahuan yang mereka dapatkan kemudian turut dibagikan kepada anak-anak di kampung.
Tidak ada papan nama besar di depan rumah itu. Tidak ada ruang kelas khusus, apalagi seragam sekolah. Yang ada hanyalah rumah sederhana, Al-Qur'an, rekal dan semangat untuk mengajarkan ilmu agama kepada generasi berikutnya.
Di sela kegiatan mengaji, Pak Syarif juga menyediakan minuman untuk anak-anak. Hal sederhana itu menjadi bentuk perhatian kepada para santri kecil yang rela meluangkan waktu belajar setelah menjalani aktivitas mereka sepanjang hari.

Kegiatan mengaji berlangsung hingga waktu Isya. Setelah selesai, anak-anak pun pulang ke rumah masing-masing. Namun bagi sebagian dari mereka, rumah Pak Syarif bukan hanya tempat belajar pada malam hari.
Ketika fajar menyingsing, setelah salat Subuh, rumah itu kembali diramaikan suara anak-anak. Wajah-wajah yang sama kembali datang membawa Al-Qur'an mereka. Ada yang datang sendiri, ada pula yang diantar atau dijemput oleh orang tua.
Bagi anak-anak Kampung Suka Damai, rutinitas tersebut telah menjadi bagian dari kehidupan mereka. Pagi dan malam, mereka belajar membaca Al-Qur'an dengan tekun. Dari yang awalnya hanya mengenal huruf hijaiyah melalui Iqra, hingga perlahan mampu membaca ayat-ayat Al-Qur'an.
Yang menarik, semua itu dilakukan tanpa pungutan biaya.
Selama puluhan tahun, keluarga Pak Syarif mengajarkan anak-anak membaca Al-Qur'an secara sukarela. Tidak ada biaya pendaftaran, tidak ada iuran bulanan. Semuanya diberikan sebagai bentuk pengabdian dan kepedulian terhadap pendidikan agama anak-anak di kampung.
Di rumah sederhana itu, semangat belajar tumbuh tanpa banyak suara. Anak-anak datang bukan karena gedung yang megah, bukan pula karena fasilitas yang lengkap. Mereka datang karena ada orang-orang yang dengan ikhlas membuka pintu rumahnya dan memberikan waktu untuk mengajarkan Al-Qur'an.
Di tengah kehidupan kampung yang sederhana, rumah Pak Syarif menjadi ruang kecil yang menyimpan harapan besar. Dari sana, anak-anak belajar mengeja huruf demi huruf, ayat demi ayat. Dari sana pula, nilai ketekunan, kebersamaan, dan keikhlasan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Setiap lantunan Al-Qur'an yang terdengar menjelang Magrib hingga malam, serta selepas Subuh ketika sebagian besar kampung masih bersiap memulai hari, menjadi pengingat bahwa pendidikan tidak selalu membutuhkan ruang yang besar.
Terkadang, sebuah rumah sederhana dan hati yang ikhlas sudah cukup untuk menyalakan cahaya.
Dan di Kampung Suka Damai, cahaya itu terus menyala dari rumah Pak Syarif, dari suara anak-anak yang belajar membaca Al-Qur'an, dari keluarga yang mengajar tanpa meminta imbalan, serta dari harapan agar generasi muda kampung tumbuh dekat dengan Al-Qur'an.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....