Guru Besar Unri Yanuar Balas Jasa Guru
- 13 Agt 2025 22:49 WIB
- Bengkalis
KBRN, Bengkalis: Di sebuah ruangan megah di Gedung Student Center Universitas Riau, Senin (11/8/2025), tepuk tangan bergemuruh menyambut tujuh akademisi yang dikukuhkan sebagai Guru Besar. Di antara toga hitam dan selempang emas itu, ada satu sosok yang hatinya tertambat pada masa lalu, Prof. Dr. Yanuar, M.Si, putra Bengkalis yang kini berdiri di puncak karier akademiknya.
Acara puncak pengukuhan Yanuar sebagai guru besar di universitas Riau, keluarga dan guru-guru nya turut hadir. (Foto keluarga Yanuar)
Bagi sebagian orang, momen itu adalah panggung pribadi. Namun bagi Yanuar, itu adalah panggung untuk membalas budi. Di barisan kursi tamu VIP, duduk guru-guru yang pernah mengajarinya membaca, berhitung, dan memahami dunia.
"Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Mereka membentuk karakter dan masa depan saya. Tanpa mereka, saya tak akan sampai di sini," kata Prof. Yanuar dengan suara bergetar.
Lahir di Bengkalis pada 21 Januari 1965, Yanuar tumbuh di keluarga sederhana. Ayahnya, almarhum Hamzah, bekerja sebagai pegawai pengantar telegram menggunakan sepeda, sebuah profesi yang mengantarkannya mendapat penghargaan dari Presiden Soeharto pada masa itu sebagai pegawai teladan. Ibunya, almarhumah Nurhayati, adalah sosok penuh keteguhan. Dari rumah sederhana itu, lahirlah mimpi yang dibesarkan dengan disiplin dan kasih.

Orang tua Prof. Yanuar pada masa aktifnya mengabdi untuk negara.(Foto keluarga Yanuar).
Di antara tamu istimewa yang hadir adalah Hj. Emy Syam (75), guru Bahasa Inggris SMPN 1 Bengkalis tahun 1977. Matanya berkaca-kaca saat menceritakan muridnya itu.
"Saya terharu sekali. Murid kita jadi Profesor dan masih ingat gurunya. Yanuar itu anaknya aktif sekali. Kalau guru memberi pertanyaan dan tidak menunjuk dia, dia akan berdiri di kursi supaya diperhatikan. Begitu ditunjuk, baru duduk," kenangnya sambil tersenyum.

Tampak keluarga besar Prof. Yanuar sedang syukuran atas dinobatkan jadi Guru Besar UNRI.(Foto keluarga Yanuar).
Baginya, undangan ini bukan sekadar formalitas, tapi tanda hati yang tulus dari seorang murid yang tahu cara berterima kasih.
Tak jauh dari Bu Emy, T. Simangunsong (73), mantan wali kelas Yanuar di SMAN 1 Bengkalis, ikut larut dalam kebanggaan.
"Selama puluhan tahun mengajar, baru kali ini saya melihat murid yang mengundang gurunya ke pengukuhan Profesor. Ini kado terindah di usia saya yang ke-73," ujarnya.
Pak Simangunsong masih aktif menjadi kepala sekolah dan mengajar di sebuah sekolah swasta di Bengkalis, dan kehadirannya hari itu menjadi momen yang ia sebut sebagai “kehormatan hidup”.
Bagi Prof. Yanuar, mengundang gurunya bukan untuk sekadar seremoni. Ia ingin para pendidiknya melihat hasil dari benih yang mereka tanam puluhan tahun lalu.
"Mereka yang mengenalkan saya pada Matematika, IPA, dan cara berpikir kritis. Kalau tidak ada mereka, mungkin saya tidak akan sampai ke fakultas MIPA dan menjadi Profesor," ungkapnya.
Di tengah kesibukan dunia akademik, cerita Yanuar menjadi pengingat bahwa kesuksesan tak pernah lahir sendirian. Ia adalah hasil kerja banyak tangan, doa yang tak putus, dan pengorbanan yang tak selalu terlihat. Dan di hari bersejarah itu, ia memastikan tangan-tangan yang pernah membimbingnya berada di barisan terdepan — tempat yang memang selayaknya mereka duduki.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....