Secangkir Teh Telur, Sejuta Harapan Ibu Roza di Bengkalis

  • 18 Agt 2026 14:21 WIB
  •  Bengkalis

RRI,CO.ID, Bengkalis - Ketika sore mulai berganti malam dan aktivitas warga di Jalan Ahmad Yani, Bengkalis, perlahan berubah, aroma teh telur hangat justru mulai mengundang perhatian. Di salah satu sudut jalan, Ibu Roza bersama dua anaknya sibuk menyiapkan minuman yang telah menjadi sumber penghasilan keluarga sejak 2019.

Setiap hari, lapak sederhana itu mulai beraktivitas sekitar pukul 18.00 WIB dan baru ditutup menjelang tengah malam, sekitar pukul 23.30 WIB. Selama lebih dari lima jam, Roza melayani pelanggan yang datang menikmati teh telur, bandrek, air jahe, hingga racikan telur campur pinang muda. Ada pilihan telur ayam kampung dan telur bebek yang disesuaikan dengan selera pembeli.

Bagi Roza, usaha tersebut bukan sekadar aktivitas berjualan pada malam hari. Setiap butir telur yang dikocok dan setiap gelas yang disajikan merupakan bagian dari ikhtiar untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Dalam sehari, sekitar 20 butir telur dapat dihabiskan, bahkan jumlahnya bisa bertambah ketika pelanggan sedang ramai. Bahan telur diperoleh dari Desa Jangkang, sedangkan pinang muda sebagian didapatkan dari rumah tetangga.

“Saya mulai jualan sejak tahun 2019. Awalnya tentu tidak mudah, tetapi saya jalani saja. Yang penting ada usaha dan bisa membantu memenuhi kebutuhan keluarga setiap hari,” ujar Ibu Roza.

Untuk menghasilkan teh telur dengan tekstur yang lembut dan berbusa, Roza tidak lagi hanya mengandalkan tenaga tangan. Ia menggunakan mesin pengocok telur sehingga proses pengolahan menjadi lebih praktis dan cepat, terutama ketika pelanggan datang bersamaan. Tangannya tetap cekatan menakar bahan, sementara matanya sesekali memperhatikan anak-anak yang turut membantu melayani pembeli.

Usaha ini juga menjadi ruang bagi dua anak Roza untuk belajar membantu orang tua. Salah satunya, Sinta, turut menemani ibunya berjualan dari sore hingga malam. Bagi Sinta, berada di samping ibunya bukan hanya soal membantu pekerjaan, tetapi juga melihat langsung bagaimana sebuah usaha kecil dipertahankan dengan kesabaran. “Kami membantu Ibu kalau sedang jualan. Kadang capek karena sampai malam, tetapi sudah terbiasa. Kami ingin usaha Ibu tetap berjalan karena ini juga membantu kebutuhan keluarga,” kata Sinta.

Sinta sedang membuat teh telur pesanan pelanggan (Foto: RRI/ RF)

Perjalanan Roza membangun usaha teh telur tentu tidak selalu berjalan mulus. Jam berjualan yang panjang membuat tubuh harus tetap kuat, sementara jumlah pembeli tidak selalu sama setiap malam. Ada saat ketika dagangan ramai dan pendapatan meningkat, tetapi ada pula malam yang lebih sepi. Namun, kondisi tersebut tidak membuatnya berhenti. Ia memilih bertahan dengan menyesuaikan jumlah bahan dan terus menjaga kualitas minuman yang dijual.

Dari usaha sederhana itu, Roza bisa memperoleh omzet kotor sekitar Rp500 ribu hingga Rp700 ribu dalam sehari, tergantung banyaknya pembeli. Penghasilan tersebut kemudian digunakan untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarga. Nilai itu bukan sekadar angka bagi Roza, melainkan hasil dari berjam-jam berdiri melayani pelanggan, mengolah pesanan, dan bekerja bersama anak-anaknya.

Kini, setelah bertahun-tahun menjalani usaha tersebut, Roza tetap memilih bertahan dengan teh telur. Baginya, selama masih ada pelanggan dan usaha itu mampu menopang kehidupan keluarga, ia akan terus mengocok telur, menyeduh teh, dan membuka lapak ketika sore tiba. Di tengah kesederhanaan sebuah lapak di Jalan Ahmad Yani, Bengkalis, tersimpan kisah tentang seorang ibu yang menjadikan kerja keras sebagai cara menjaga keluarganya tetap bertahan—secangkir teh telur demi secangkir harapan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....