PHR Bangkitkan Tenun Limbungan, Pengrajin Kembali Produktif

  • 10 Jul 2026 17:07 WIB
  •  Bengkalis

RRI.CO.ID, Bengkalis - Pandemi Covid-19 dan banjir yang melanda wilayah Rumbai beberapa tahun lalu sempat melumpuhkan aktivitas para pengrajin tenun di Kelurahan Limbungan, Kecamatan Rumbai Timur, Kota Pekanbaru. Namun, berkat semangat para pengrajin serta dukungan dari PT Pertamina Hulu Rokan (PHR), kelompok Tenun Srikandi Serumpun Limbungan Gemilang kini kembali bangkit dan produktif.

Ketua sekaligus penggerak kelompok tenun, Salma Betty (50), mengenang beratnya cobaan yang mereka alami. Setelah pandemi menghentikan aktivitas produksi, banjir yang datang setahun kemudian merusak seluruh peralatan tenun dan bahan baku yang dimiliki para pengrajin.

"Alat tenun, benang, dan perlengkapan produksi kami rusak diterjang banjir. Saat itu kami sempat merasa kehilangan harapan untuk bisa menenun kembali," ujar Salma Betty.

Meski demikian, semangat para ibu-ibu pengrajin tidak pernah padam. Mereka terus berupaya bangkit demi menjaga warisan budaya Melayu sekaligus membuka kembali peluang ekonomi bagi keluarga.

Harapan itu mulai terwujud ketika Pertamina Hulu Rokan (PHR) melalui Program Pengembangan UMKM Ekonomi Pemuda dan Perempuan Crafting memberikan pendampingan kepada kelompok tenun tersebut. PHR membantu menghidupkan kembali aktivitas para penenun yang sempat vakum dengan memperbaiki fasilitas produksi, menyediakan benang serta berbagai kebutuhan menenun.

"Dukungan dari PHR menjadi angin segar bagi kami untuk kembali berkarya dan menghidupkan potensi lokal yang sempat nyaris tenggelam," kata Salma.

Saat ini Kelompok Tenun Srikandi Serumpun Limbungan Gemilang telah memiliki 15 anggota aktif yang rutin mengikuti pembinaan. Sejak Juni 2026, para penenun mengikuti pelatihan sebanyak dua kali setiap pekan. Hingga kini telah berlangsung tujuh kali pertemuan dari target sepuluh sesi pelatihan.

Menurut Salma, kegiatan tersebut bukan hanya meningkatkan kemampuan menenun, tetapi juga membangun optimisme para anggota untuk kembali produktif.

"Menenun menjadi ruang bagi kami para ibu untuk terus berkarya. Setiap lembar kain yang dihasilkan membawa harapan besar, karena selain menjadi kebanggaan, juga membuka peluang meningkatkan perekonomian keluarga," ungkapnya.

Melalui pendampingan tersebut, para pengrajin kini juga mulai menerapkan standar produksi yang lebih baik. Setiap alat tenun ditargetkan mampu menghasilkan hingga 15 lembar kain berkualitas tanpa menghilangkan identitas budaya Melayu yang menjadi ciri khas tenun Limbungan.

Manager Corporate Innovation and Development (CID) PHR, Iwan Ridwan Faizal, mengatakan program tersebut merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat sekaligus melestarikan budaya daerah.

"Kebangkitan aktivitas tenun di Limbungan tidak hanya berdampak pada peningkatan pendapatan keluarga, tetapi juga memperkuat upaya pelestarian warisan budaya di tengah arus modern," ujar Iwan.

Ia menegaskan, PHR akan terus mendukung penguatan identitas budaya lokal melalui berbagai program pemberdayaan masyarakat agar tetap lestari dan dikenal oleh generasi mendatang.

"Kami ingin warisan budaya ini terus hidup. Dengan kolaborasi yang terjalin, alat tenun yang sebelumnya terdiam kini kembali beroperasi, menciptakan ruang produktif bagi para ibu dan menjadi bukti bahwa budaya lokal mampu bertahan sekaligus berkembang," tutupnya.

Bangkitnya kembali Kelompok Tenun Srikandi Serumpun Limbungan Gemilang menjadi bukti bahwa kolaborasi antara masyarakat dan dunia usaha mampu menghidupkan kembali potensi budaya yang sempat terpuruk. Selain menjaga kelestarian tenun Melayu, program ini juga membuka peluang peningkatan kesejahteraan bagi para perempuan pengrajin di Kota Pekanbaru.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....