Mahasiswi STAIN Bengkalis Teliti UMKM Wisata Mangrove

  • 06 Apr 2025 20:17 WIB
  •  Bengkalis

KBRN, Bengkalis: Sebagai bagian dari tugas mata kuliah Kewirausahaan, tujuh mahasiswi dari STAIN Bengkalis program studi Akuntansi Syariah melakukan penelitian sekaligus pengenalan produk olahan mangrove di Desa Kayu Ara Permai, Kecamatan Sungai Apit, Kabupaten Siak, Sabtu (5/4/2025) pukul 10.00 WIB.

Kegiatan ini dilakukan oleh Anis Safia, Nurul Hidayah, Riha Datul Aisyah, Santi, Suci Ramadhani, Siti Syarah, dan Suriana Agustina Putri. Mereka mengangkat studi kasus pada UMKM lokal yang bergerak di bidang wisata edukasi mangrove dan pengembangan produk makanan berbasis tanaman mangrove.

Mahasiswa STAIN Bengkalis lakukan studi kasus di Kabupaten Siak (Foto RRI TSM)

"Sebagai bagian dari tugas mata kuliah Kewirausahaan, kami melakukan studi kasus pada sebuah UMKM yang berfokus pada pengembangan wisata mangrove dan produksi olahan makanan dari mangrove," ungkap Suriana Agustina Putri selaku perwakilan kelompok.

Lebih lanjut, Suriana menyampaikan bahwa penelitian ini bertujuan untuk memberi wawasan tentang bagaimana UMKM dapat memanfaatkan potensi mangrove secara optimal.

“Kami berharap kegiatan ini memberikan inspirasi bagaimana mangrove bukan hanya berperan penting dalam menjaga ekosistem, tapi juga bisa menjadi sumber penghasilan yang berkelanjutan bagi masyarakat,” tambahnya.

UMKM yang diteliti adalah Mangrove Sungai Bersejarah (MSB), yang berdiri sejak 2018 sebagai bentuk kepedulian terhadap mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. MSB tak hanya menjadi destinasi wisata edukatif, tetapi juga pusat produksi berbagai olahan mangrove seperti kopi bakau, stick jeruju, peyek daun waru, dodol kedabu, sirup kedabu, kerupuk api-api, dan lainnya.

Pengelola wisata mangrove, Jumadi Afrizan yang akrab disapa Pak Adi, bersama istrinya Kameria, menyambut hangat kunjungan para mahasiswi. Mereka bercerita bagaimana MSB kini menjadi ikon kampung yang berhasil mengangkat ekonomi masyarakat.

"Kami di sini telah berhasil meraih penghargaan sebagai UMKM berbahan dasar mangrove terbaik se-provinsi Riau," ujar Pak Adi.

Ia menambahkan bahwa produk olahan mereka telah menjangkau berbagai kota besar di Indonesia seperti Batam, Dumai, dan Jakarta. Bahkan, wisata mangrove ini telah dikunjungi wisatawan dari 10 negara, termasuk Prancis, Ghana, Inggris, Brazil, Malaysia, Meksiko, Kolombia, Belanda, Afrika Selatan, dan Amerika Serikat.

"Alhamdulillah kami sangat bersyukur adik-adik semua berkenan datang ke tempat kami. Kami berharap pesan dari sini bisa dibawa pulang dan disebarkan: pentingnya menjaga alam untuk keberlangsungan ekosistem kita," ucap Pak Adi penuh haru.

Melalui pelatihan dan kerja sama dengan PT. Imbang Tata Alam, Pak Adi dan istrinya berhasil mengangkat nama kampung mereka dan membangun perekonomian lokal secara mandiri.

Dengan semangat kolaborasi antara dunia akademik dan pelaku UMKM, kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal yang inspiratif dalam membangun ekonomi berkelanjutan berbasis pelestarian lingkungan kata Jumadi Afrizan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....