Bank-Bank Dunia Siaga Penuh Hadapi Ancaman Siber, AI Canggih Berpotensi Pembobolan

  • 27 Jul 2026 00:51 WIB
  •  Bengkalis

RRI.CO.ID, Bengkalis - Industri perbankan global memasuki fase kewaspadaan tinggi menyusul meningkatnya ancaman serangan siber yang memanfaatkan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Regulator dan lembaga pengawas keuangan di berbagai negara memperingatkan bahwa teknologi AI generatif kini dapat membantu pelaku kejahatan siber menemukan celah keamanan, menyusun serangan yang lebih kompleks, hingga mempercepat proses pembobolan sistem perbankan.

Peringatan tersebut mendorong sejumlah regulator keuangan memperketat pengawasan terhadap bank-bank besar. Bank-bank diminta memperbarui sistem keamanan digital, mempercepat penutupan celah keamanan, serta menyiapkan rencana mitigasi apabila terjadi serangan siber berskala besar.

Dikutip dari Reuters, Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ECB), misalnya, telah meminta bank-bank di kawasan euro menyusun rencana khusus menghadapi ancaman siber berbasis AI. Langkah itu diambil setelah regulator menilai perkembangan model AI modern dapat memperpendek waktu yang dimiliki bank untuk mendeteksi dan menutup kerentanan sistem sebelum dimanfaatkan peretas.

Ancaman tersebut tidak hanya berasal dari kemampuan AI dalam menulis kode berbahaya, tetapi juga dalam menciptakan serangan phishing yang lebih meyakinkan. Dengan bantuan AI, pelaku dapat menghasilkan email, pesan singkat, hingga suara dan video palsu (deepfake) yang sangat menyerupai pejabat bank atau pimpinan perusahaan untuk mengelabui korban.

Laporan Reuters dan Financial Times menyebut penggunaan AI telah mengubah pola serangan siber menjadi lebih cepat, lebih murah, dan lebih sulit dideteksi. Teknologi ini memungkinkan pelaku melakukan rekayasa sosial dalam skala besar dengan tingkat personalisasi yang jauh lebih tinggi dibandingkan metode konvensional.

Selain risiko pencurian data nasabah, serangan terhadap sistem inti perbankan juga dikhawatirkan dapat mengganggu layanan digital seperti mobile banking, internet banking, hingga jaringan ATM apabila insiden berkembang menjadi gangguan operasional berskala luas. Karena itu, regulator menekankan pentingnya peningkatan ketahanan siber di seluruh infrastruktur keuangan.

European Systemic Risk Board (ESRB) bahkan mengingatkan serangan siber besar terhadap sektor keuangan berpotensi mengganggu kepercayaan publik terhadap sistem perbankan. Risiko tersebut dinilai semakin tinggi karena banyak lembaga keuangan menggunakan penyedia layanan teknologi dan perangkat lunak yang sama, sehingga satu insiden dapat berdampak pada banyak institusi sekaligus.

Pakar keamanan siber menilai bank perlu menerapkan pendekatan zero trust, memperluas penggunaan autentikasi multifaktor, mempercepat pembaruan perangkat lunak, serta meningkatkan pelatihan bagi karyawan untuk menghadapi serangan rekayasa sosial berbasis AI.

Meski demikian, regulator menegaskan meningkatnya ancaman bukan berarti sistem perbankan saat ini mudah dibobol. Peringatan tersebut justru dimaksudkan agar industri keuangan memperkuat pertahanan sebelum teknologi AI dimanfaatkan lebih luas oleh kelompok kriminal siber dalam melancarkan serangan terhadap infrastruktur keuangan global.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....