Limbah Kambing Disulap Jadi Pupuk Bernilai
- 21 Feb 2026 08:09 WIB
- Bengkalis
RRI.CO.ID, Bengkalis - Limbah kotoran kambing yang kerap dianggap tak bernilai, di tangan Suhaimi, warga Kelapapati Darat, Kecamatan Bengkalis, justru disulap menjadi pupuk organik berkualitas dan diminati petani lokal.
Ditemui RRI di lokasi usahanya, Suhaimi menjelaskan awal mula ia memanfaatkan kotoran kambing dari kandangnya untuk diolah menjadi pupuk kohe. Menurutnya, selain untuk menjaga kebersihan lingkungan sekitar kandang, langkah tersebut juga menjadi peluang usaha yang menjanjikan.
“Awalnya karena kotoran kambing menumpuk. Kalau tidak dikelola bisa menimbulkan bau dan mencemari lingkungan. Dari situ saya belajar bagaimana cara mengolahnya menjadi pupuk organik yang bermanfaat,” ujar Suhaimi, Sabtu 21 Februari 2026.
Ia menerangkan, proses pembuatan pupuk dilakukan melalui beberapa tahapan. Pertama, kotoran kambing dikumpulkan lalu dijemur untuk mengurangi kadar air. Setelah itu, bahan dicampur dengan sekam padi dan larutan aktivator mikroorganisme untuk proses fermentasi.
“Fermentasinya sekitar dua sampai tiga minggu. Selama itu tumpukan harus dibalik supaya panasnya merata dan hasilnya bagus. Kalau sudah matang, warnanya lebih gelap, teksturnya remah dan tidak berbau menyengat,” jelasnya.
Setelah proses fermentasi selesai, pupuk diayak agar halus dan kemudian dikemas dalam karung berukuran 25 hingga 50 kilogram. Pupuk tersebut dipasarkan kepada petani sayur, pekebun sawit, serta masyarakat yang gemar bercocok tanam di wilayah Bengkalis.
Salah seorang petani sayur di Bengkalis, Rahmat, mengaku terbantu dengan keberadaan pupuk organik tersebut. Ia menilai penggunaan pupuk kohe kambing membuat tanah lebih gembur dan tanaman tumbuh lebih sehat.
“Kalau pakai pupuk ini, tanah tidak cepat keras. Tanaman juga lebih segar. Harganya pun lebih terjangkau dibanding pupuk kimia,” kata Rahmat.
Permintaan pupuk organik produksi Suhaimi terus meningkat, terutama dalam beberapa tahun terakhir seiring meningkatnya kesadaran petani terhadap pertanian ramah lingkungan. Dalam satu bulan, ia mampu memproduksi hingga beberapa ton pupuk, tergantung ketersediaan bahan baku.
Suhaimi berharap ke depan usahanya dapat berkembang lebih besar dengan dukungan pelatihan dan bantuan permodalan dari pemerintah maupun pihak terkait.
“Saya ingin produksi lebih banyak dan bisa menjangkau pasar di luar Bengkalis. Semoga usaha kecil ini bisa terus berkembang dan bermanfaat untuk banyak orang,” harapnya.
Keberadaan usaha pupuk kohe kambing ini tidak hanya memberikan nilai tambah secara ekonomi bagi keluarga Suhaimi, tetapi juga membantu mengurangi limbah peternakan serta mendukung pertanian organik di Kabupaten Bengkalis.