PHR Wujudkan Komitmen Hijau di Tengah Operasi
- 23 Apr 2025 10:11 WIB
- Bengkalis
KBRN, Bengkalis: Dalam rangka memperingati Hari Bumi yang jatuh setiap 22 April, PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) menunjukkan keseriusannya dalam menjaga lingkungan hidup meski di tengah upaya peningkatan produksi minyak dan gas di Wilayah Kerja (WK) Rokan. Komitmen ini diwujudkan melalui berbagai program pelestarian lingkungan berkelanjutan yang menyasar keanekaragaman hayati, pengurangan emisi karbon, serta pemberdayaan masyarakat sekitar.
“Komitmen terhadap pelestarian lingkungan merupakan pilar penting dalam operasional PHR. Kami menyadari bahwa keberlanjutan bisnis sangat erat kaitannya dengan keberlangsungan lingkungan hidup di sekitar wilayah operasi,” ujar Eviyanti Rofraida, Corporate Secretary PHR Regional 1 Sumatra.
Salah satu program unggulan PHR adalah pengembangan bank sampah, yang kini telah direplikasi di 40 lokasi di berbagai kabupaten dan kota di Riau. Program ini tidak hanya mengurangi limbah, tetapi juga membuka peluang penghasilan bagi masyarakat sekitar. Inisiatif ini turut mengantarkan PHR meraih penghargaan PROPER kategori hijau dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) RI.
Tak hanya itu, konservasi Gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus) juga menjadi perhatian utama. Bekerja sama dengan BBKSDA Riau dan Rimba Satwa Foundation (RSF), PHR aktif memulihkan habitat gajah melalui penanaman tanaman pakan dan tanaman bernilai ekonomi tinggi yang tidak disukai gajah di area perlintasan.
“Upaya ini tidak hanya melindungi satwa endemik, tapi juga melibatkan masyarakat dalam agroforestri, sehingga mereka turut mendapat manfaat ekonomi,” tambah Eviyanti.
Di wilayah Dumai, PHR menginisiasi konservasi mangrove sejak 2022. Luasan awal 2,6 hektare kini berkembang menjadi 24 hektare pada tahun 2024. Selain menjaga ekosistem pesisir, kawasan ini berkembang sebagai ekoeduwisata yang menciptakan ekonomi sirkular.
PHR juga mendukung kemandirian energi masyarakat melalui Program Desa Energi Berdikari (DEB) di Desa Mukti Sari, Kabupaten Kampar. Hingga kini, sebanyak 21 reaktor biogas telah dibangun dan dikelola oleh masyarakat, menghasilkan energi alternatif dari kotoran sapi, kambing, dan limbah ampas tahu.
Selain itu, kerja sama dengan Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Riau mendorong pengembangan ekowisata berbasis masyarakat. Salah satunya adalah Desa Petapahan, Kecamatan Tapung, Kampar, yang tengah dikembangkan menjadi desa wisata mandiri berbasis Hutan Adat Imbo Putui.
“Kami memberikan pelatihan dan pendampingan untuk meningkatkan kapasitas pelaku wisata. Harapannya, masyarakat dapat mengelola potensi lokal dan mengangkat perekonomian mereka,” jelas Eviyanti.
Seluruh program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang dijalankan PHR mengusung prinsip kolaborasi pentahelix—melibatkan pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas, dan media—sebagai upaya nyata dalam menciptakan masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....