Mengenal Batik Parang dan Makna Filosofisnya
- 23 Jun 2025 08:10 WIB
- Bengkalis
KBRN, Bengkalis: Batik Parang merupakan salah satu motif batik tertua di Indonesia, yang telah dikenal sejak masa Keraton Mataram Kartasura (Solo).
Dikutip dari laman wikipedia, kata parang berasal dari kata dalam bahasa Jawa, yaitu “pereng”, yang berarti “lereng”. Hal ini merujuk pada bentuk motif Batik Parang yang menyerupai huruf “S” berjajar secara diagonal, miring seperti lereng gunung.
Motif perengan menggambarkan garis yang menurun dari posisi tinggi ke rendah secara diagonal, dan menjadi simbol kesinambungan dalam kehidupan. Susunan bentuk huruf “S” yang saling berkaitan tanpa terputus mencerminkan konsep keterikatan dan kesinambungan antara manusia dengan alam, serta antarindividu dalam kehidupan sosial.
Bentuk dasar huruf “S” tersebut diilhami oleh ombak samudra yang terus bergerak tanpa henti, melambangkan semangat juang dan kekuatan yang tidak pernah padam. Motif ini tidak hanya mencerminkan nilai estetika, tetapi juga sarat dengan makna filosofi yang mendalam sebuah warisan budaya adiluhung yang memperlihatkan kedalaman pemikiran masyarakat Jawa dalam merefleksikan nilai-nilai kehidupan melalui seni batik.
Motif Batik Parang juga menggambarkan jalinan yang tidak pernah putus, baik dalam konteks usaha memperbaiki diri, memperjuangkan kesejahteraan, maupun menjaga ikatan kekeluargaan. Dahulu, kain bermotif parang bahkan dianggap sebagai hadiah mulia yang diberikan orang tua kepada anak-anaknya, sebagai bentuk doa dan harapan agar mereka melanjutkan perjuangan hidup dengan semangat dan keteguhan hati.
Garis-garis diagonal lurus pada motif ini melambangkan arah cita-cita, penghormatan kepada nilai-nilai luhur, serta kesetiaan terhadap prinsip hidup. Dinamika pola Parang juga menyiratkan ketangkasan, kewaspadaan, serta kesinambungan atau kontinuitas dalam hubungan antarindividu, termasuk antara pekerja dengan pekerja lainnya.
Secara tradisional, Batik Parang dikenakan dalam upacara pembukaan atau saat seorang senapati (panglima perang) hendak berangkat berperang, sebagai simbol doa agar kembali dengan membawa kemenangan.
Berikut adalah beberapa varian motif Batik Parang, masing-masing dengan ciri khas dan makna filosofis tersendiri:
1. Parang Rusak
Motif ini merupakan salah satu motif batik paling awal dan diciptakan oleh Panembahan Senopati saat bertapa di Pantai Selatan. Terinspirasi dari ombak yang terus-menerus menghantam karang, motif ini melambangkan perjuangan manusia dalam mengendalikan hawa nafsu dan dorongan jahat dalam diri. Parang Rusak menjadi simbol dari watak mulia, kebijaksanaan, dan karakter kuat yang lahir dari perjuangan batin.
2. Parang Barong
Parang Barong memiliki ukuran motif yang lebih besar daripada Parang Rusak dan diciptakan oleh Sultan Agung Hanyakrakusuma. Motif ini melambangkan pengendalian diri yang bijaksana dalam menghadapi dinamika kehidupan, serta kehati-hatian dalam bertindak. Parang Barong biasanya dikenakan oleh tokoh penting atau pemimpin sebagai lambang kebesaran dan tanggung jawab besar yang diemban.
3. Parang Klitik
Motif ini memiliki ukuran lebih kecil dan bentuk stilasi yang lebih halus dibandingkan varian lainnya. Parang Klitik menggambarkan sisi feminin dan kelembutan, serta melambangkan perilaku halus dan penuh kebijaksanaan. Umumnya, motif ini dikenakan oleh para putri keraton atau perempuan bangsawan sebagai lambang keanggunan dan kesantunan.
4. Parang Slobog
Parang Slobog melambangkan keteguhan, ketelitian, dan kesabaran. Motif ini biasanya dikenakan dalam acara pelantikan atau pengukuhan, sebagai simbol harapan agar seseorang dapat menjalankan tugas dan tanggung jawabnya dengan amanah serta penuh kebijaksanaan.