Sejarah Kacamata dan Awal Penggunaannya
- 28 Mei 2025 07:29 WIB
- Bengkalis
KBRN, Bengkalis: Kacamata, atau tesmak, adalah alat optik berupa lensa tipis yang digunakan untuk menormalkan dan mempertajam penglihatan. Beberapa kacamata dilengkapi dengan lensa berangka (resep) untuk membantu masalah penglihatan seperti rabun jauh, rabun dekat, atau astigmatisme, sementara yang lainnya tidak memiliki koreksi optik dan digunakan untuk tujuan estetika atau perlindungan.
Kini, kacamata tidak hanya berfungsi sebagai alat bantu penglihatan, tetapi juga menjadi bagian dari gaya hidup. Selain itu, kacamata juga dikembangkan untuk kebutuhan khusus, seperti kacamata tiga dimensi (3D) yang digunakan dalam pengalaman menonton hiburan berbasis teknologi visual.
Dari laman wikipedia kacamata memiliki sejarah, sejarah penggunaan kacamata diawali pada masa Kekaisaran Romawi. Salah satu tokoh yang dikenal adalah Kaisar Nero, yang memerintah pada tahun 54 hingga 68 Masehi. Nero diketahui menggunakan batu permata berbentuk cekung untuk membaca dan menonton pertunjukan. Meskipun belum dipastikan apakah ia memiliki gangguan penglihatan, kebiasaannya ini menjadi indikasi awal penggunaan alat bantu penglihatan sederhana.
Bangsa Cina diduga menjadi salah satu pelopor penggunaan alat yang menyerupai kacamata modern. Kacamata mereka umumnya terdiri atas lensa berbentuk oval besar yang terbuat dari kristal batu, serta bingkai dari tempurung kura-kura. Untuk menopangnya, digunakan dua kawat yang diberi pemberat dan dikaitkan ke telinga, atau diikatkan ke topi, bahkan dicantolkan ke pelipis.
Menariknya, pada masa itu kacamata di Cina lebih banyak digunakan sebagai jimat keberuntungan atau simbol status sosial. Bahkan tidak jarang, masyarakat hanya mengenakan bingkai tanpa lensa demi penampilan.
Kacamata mulai dikenal di Eropa pada abad ke-13. Berbeda dengan di Cina, masyarakat Eropa menggunakan kacamata sebagai alat bantu penglihatan. Kacamata pertama yang digunakan berupa kaca pembesar yang dipegang dengan satu tangan. Inovasi selanjutnya meliputi penggunaan lensa ganda yang dilengkapi gagang untuk dikaitkan ke telinga, kemudian berkembang menjadi kacamata dengan pita atau tali yang diikatkan ke kepala.
Pada periode tertentu, orang Eropa juga menggunakan kacamata per, yakni kacamata yang dijepitkan di atas hidung tanpa menggunakan gagang. Inovasi terus berkembang hingga akhirnya ditemukan gagang kawat bengkok yang dikeraskan agar dapat melekat di telinga secara lebih stabil.
Penggunaan lensa untuk mengoreksi penglihatan juga tercatat dalam sejarah peradaban Islam. Seorang ilmuwan bernama Abbas Ibn Firnas, yang hidup pada abad ke-9, diketahui telah menemukan teknik pembuatan lensa yang sangat jernih. Lensa ini kemudian diasah menjadi bentuk bulat dan digunakan untuk membaca, yang dikenal dengan istilah batu membaca.
Pada akhir abad ke-13, diketahui bahwa penggunaan kaca sebagai material lensa jauh lebih efektif dibandingkan batu transparan. Hal ini didukung oleh penelitian Sir Joseph Needham, seorang ilmuwan dan sejarawan Inggris, yang menunjukkan bahwa kacamata pertama kali ditemukan sekitar 1.000 tahun lalu di Cina dan menyebar ke seluruh dunia melalui jalur perdagangan, terutama setelah kedatangan Marco Polo ke Asia pada tahun 1270. Marco Polo sendiri mencatat keberadaan benda serupa kacamata dalam catatan perjalanannya.[
Meskipun asal usul pasti kacamata masih menjadi perdebatan, banyak yang meyakini bahwa para tukang kaca memiliki peranan penting dalam inovasi awal alat bantu penglihatan ini.
Pada tahun 1784, Benjamin Franklin, seorang ilmuwan asal Amerika Serikat, berhasil menciptakan kacamata bifokal, yaitu kacamata yang memungkinkan penggunanya melihat dengan jelas baik pada jarak jauh maupun jarak dekat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....