Panen Pakcoy, Siswa Berkebutuhan Khusus SLBN Bengkalis Buktikan Mampu Berkarya

  • 07 Jun 2026 08:13 WIB
  •  Bengkalis

RRI.CO.ID, Bengkalis - Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Bengkalis terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung program Asta Cita Presiden Republik Indonesia melalui pengembangan budidaya pakcoy dengan sistem hidroponik. Program ini tidak hanya menjadi sarana pembelajaran keterampilan, tetapi juga membuktikan siswa berkebutuhan khusus mampu berkarya dan menghasilkan produk yang bernilai ekonomi.

Saat ini, tanaman pakcoy yang dibudidayakan para siswa telah berhasil dipanen. Sebagian hasil panen dibawa pulang oleh para siswa untuk dinikmati bersama keluarga, sementara sebagian lainnya dijual dan hasilnya digunakan untuk mendukung kegiatan bersama di sekolah.

Koordinator Pokasi Pertanian SLBN Bengkalis, Eric Faisal mengatakan keberhasilan program tersebut tidak terlepas dari metode pembelajaran yang disesuaikan dengan kemampuan masing-masing siswa.

Guru pembimbing sedang melakukan panen bersama anak SLBN Bengkalis

"Anak-anak berkebutuhan khusus memiliki cara belajar yang berbeda. Karena itu kami membagi pekerjaan menjadi langkah-langkah kecil yang jelas sehingga mereka lebih mudah memahami tugas yang diberikan," ujar Eric Faisal, .Minggu, 7 Juni 2026.

Ia menjelaskan, saat ini terdapat 10 siswa yang terlibat dalam kegiatan pertanian hidroponik tersebut. Mereka terdiri dari lima siswa dengan hambatan Down Syndrome, tiga siswa dengan hambatan autisme, dan dua siswa dengan hambatan tunagrahita ringan. Dalam pelaksanaannya, para siswa didampingi oleh tiga guru.

"Pertama saya sendiri selaku koordinator, kemudian Ibu Mela dan Ibu Martini yang turut mendampingi anak-anak dalam setiap proses pembelajaran pertanian," jelasnya.

Para guru sedang memperlihatkan hasil tanaman pakcoy yang ditanam oleh anak didik berkebutuhan khusus

Menurut Eric, setiap siswa diberikan tugas sesuai kemampuan yang dimiliki. Siswa yang memiliki kemampuan motorik halus yang baik diarahkan untuk melakukan penyemaian benih pakcoy pada media tanam, sedangkan siswa yang memiliki kemampuan motorik kasar lebih baik diberikan tugas membawa air atau membantu proses perawatan tanaman.

"Kami memberikan peran sesuai kemampuan masing-masing anak. Dengan begitu mereka merasa mampu menyelesaikan tugas yang diberikan dan lebih percaya diri," katanya.

Selain pembagian tugas yang tepat, motivasi juga menjadi faktor penting dalam keberhasilan program tersebut. Para guru selalu memberikan apresiasi setiap kali siswa berhasil menyelesaikan pekerjaannya.

"Kami langsung memberikan pujian ketika mereka berhasil melaksanakan tugas. Anak-anak ini sangat senang ketika diapresiasi. Mereka merasa bangga dan dihargai sehingga semakin bersemangat untuk belajar dan bekerja," ungkap Eric.

Ia menambahkan, para siswa juga diajak melihat secara langsung hasil kerja keras mereka melalui proses panen. Bahkan hasil panen tersebut dapat dibawa pulang maupun dijual sehingga siswa memahami bahwa usaha yang mereka lakukan memiliki manfaat nyata.

"Ketika mereka melihat pakcoy yang ditanam tumbuh subur lalu dipanen, mereka merasa memiliki andil besar dalam keberhasilan itu. Ini menjadi motivasi yang sangat kuat bagi mereka," ujarnya.

Untuk satu siklus budidaya, para siswa mengikuti proses pembelajaran selama 30 hari. Tahap pertama adalah penyemaian selama 10 hari, kemudian dilanjutkan dengan proses peremajaan dan pendewasaan tanaman selama 20 hari pada instalasi hidroponik hingga siap dipanen.

Keberhasilan program ini menjadi bukti bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk berkarya. Di bawah kepemimpinan Kepala SLBN Bengkalis, Tri Rahayu, sekolah terus berupaya membentuk karakter siswa agar mandiri, percaya diri, dan memiliki keterampilan yang dapat berguna bagi kehidupan mereka di masa depan.

Melalui kegiatan budidaya pakcoy hidroponik ini, para siswa berkebutuhan khusus tidak hanya belajar bercocok tanam, tetapi juga belajar tentang tanggung jawab, kerja sama, serta keyakinan bahwa mereka mampu menghasilkan karya yang membanggakan. Kisah mereka menjadi inspirasi bahwa setiap anak memiliki potensi untuk tumbuh, berkembang, dan memberi manfaat bagi lingkungan sekitarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....