Menjadi Pribadi Kokoh Dalam Keluarga dan Komunitas
- 05 Jun 2025 17:09 WIB
- Baubau
KBRN, Baubau: Salah satu pilar utama yang menjadi program unggulan Komunitas Kesehatan Jiwa (KKJ) adalah Program 3K yaitu Kokoh diri, Kokoh sebagai pasangan, dan Kokoh sebagai orang tua yang dirindukan.
Program UNGGULAN ini dicetuskan oleh Ibu Ainun Zaujah sebagai Founder Komunitas, setelah melalui serangkaian proses yang sangat panjang dalam mendampingi kaum perempuan di ruang konseling untuk tumbuh sehat, beriman, kokoh, dan berdaya.
Program ini dirancang sebagai rangkaian pembentukan karakter dan penguatan peran perempuan, terutama dalam lingkup rumah tangga dan keluarga. Kokoh diri menjadi tahap paling awal dan paling mendasar : mengenali luka dan kerentanan, memahami potensi dan peran, serta belajar fokus pada hal-hal yang bisa dikendalikan, yaitu diri sendiri. Seorang istri yang tidak selesai dengan dirinya, akan mudah lelah ketika menjalani peran dalam pernikahan, bahkan bisa kehilangan arah ketika menghadapi masalah yang berat. Maka, membangun kekokohan diri bukan sekadar pilihan, tapi kebutuhan utama dalam menciptakan relasi yang sehat dan tumbuh.
Setelah diri sendiri kokoh, barulah seseorang bisa benar-benar hadir sebagai pasangan yang kokoh. Di sinilah titik penting yang sering terabaikan. Banyak istri berharap pasangan berubah sesuai dengan ekspektasi mereka, lalu kecewa ketika kenyataan tidak sejalan. Padahal, istri tidak perlu menuntut suami untuk berubah, karena perubahan yang dipaksakan dari luar sering kali tidak bertahan lama dan justru menimbulkan konflik baru. Yang perlu dilakukan adalah memperbaiki diri, memperkuat pemahaman, dan mengelola respons secara bijaksana. Dengan terus memperbaiki diri dan menyelesaikan luka-luka batin yang belum sembuh, seorang istri akan memancarkan energi yang lebih tenang dan dewasa. Dan ketika seorang istri telah kokoh secara batin, maka kehadirannya sendiri bisa menjadi cahaya, yang tanpa paksaan mampu menginspirasi dan menyentuh hati suami. Inilah cara terbaik dan paling efektif untuk menciptakan perubahan di dalam rumah tangga. Bukan dengan tuntutan, tapi dengan keteladanan.
Tahap berikutnya adalah kokoh sebagai orangtua yang dirindukan. Ketika suami-istri telah membangun hubungan yang sehat dan stabil, mereka lebih siap menjalankan peran sebagai orangtua. Anak-anak akan tumbuh dalam lingkungan yang aman secara emosional, karena melihat figur orangtua yang saling mendukung dan tidak saling menyalahkan. Namun, sekali lagi, tidak ada lompatan ajaib menuju keluarga ideal. Semua bermula dari keberanian individu untuk memperbaiki dirinya. Seorang ibu atau ayah yang belum selesai dengan masalah batinnya, akan sulit menjadi pelindung yang utuh bagi anak-anak. Oleh sebab itu, ketiga program 3K ini bukan sekadar teori, tapi kerangka hidup yang harus dijalani secara berurutan dan konsisten.
Sebagai penutup, mari kita tanamkan keyakinan bahwa perubahan dalam rumah tangga tidak perlu dimulai dari orang lain. Tidak perlu sibuk menuntut pasangan untuk menjadi lebih baik, jika kita sendiri belum bersungguh-sungguh memperbaiki diri. Ketika seorang istri mengokohkan dirinya dengan ilmu, iman, dan akhlak, maka ia telah meletakkan batu pertama bagi keluarga yang sakinah. Tidak mudah memang, tapi justru dari kesungguhan itu akan lahir kekuatan, ketabahan, dan kedewasaan. Inilah bentuk cinta tertinggi. Mencintai bukan karena pasangan sempurna, melainkan karena kita telah belajar menjadi pribadi yang layak mencintai dan dicintai dengan cara yang benar. Dari pribadi yang kokoh, lahirlah keluarga yang sehat. Dan dari keluarga yang sehat, lahirlah peradaban yang kuat.

Rahmi Utami Nurul Rahman, ST
Oleh: Rahmi Utami Nurul Rahman, ST (Tim Media & Konselor Komunitas Kesehatan Jiwa)
*Tulisan atau artikel opini yang dipublikasikan tidak mencerminkan pandangan redaksi rri.co.id. Hak cipta dan pertanggungjawaban dari tulisan, berita atau artikel yang dikutip dari media lain atau tulisan sendiri sepenuhnya di pegang penulis.