Banti to Akoro Panggilan Menghidupkan Kabanti
- 14 Jun 2025 12:04 WIB
- Baubau
KBRN, Baubau: Jumat malam (13/6/2025), suasana pelataran Masjid Agung Keraton Buton di Kota Baubau, Sulawesi Tenggara (Sultra) berubah menjadi panggung hidup kebudayaan Buton. Di bawah langit malam yang tenang, ratusan pasang mata terpukau menyaksikan pementasan teater Banti to Akoro oleh kelompok Teater Sora. Pementasan ini bukan sekadar pertunjukan seni, tetapi sebuah pernyataan budaya yakni kabanti belum mati.
Dengan langkah-langkah penuh makna, para pemain menghidupkan kembali syair-syair kabanti-warisan sastra lisan khas Buton melalui irama, gerak, dan narasi visual yang menyatu. Tajuk Banti to Akoro, yang berarti “jangan mi diri ta yang penting untuk semua orang”, menjadi benang merah pementasan yang sarat makna sosial dan spiritual.

Penabuh gendang dalam pementasan teater Banti to Akoro (Foto. RRI/Fatin)
Produser sekaligus sutradara, Chendy Ariswan Latief, tampil tidak hanya sebagai seniman tetapi juga sebagai peneliti. Mahasiswa Pascasarjana Seni ISI Yogyakarta ini menegaskan bahwa Banti to Akoro merupakan bagian dari riset akademiknya yang juga didukung Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI), Dana Indonesiana.
"Kami ingin kabanti hadir kembali dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, bukan sekadar sebagai pesan atau nyanyian, melainkan hadir di ruang-ruang publik seperti dapur, sumur, hingga kawasan pesisir,”ujarnya.
Menurut Chendy, kabanti dan bahasa Wolio kini sudah sulit dijangkau oleh generasi muda. Teater dipilih sebagai sarana yang hidup dan komunikatif untuk menjembatani jurang generasi.
Pertunjukan dibuka di kawasan Benteng Keraton Buton sebagai simbol kekuasaan sekaligus pusat spiritual masa lalu. Dimulai dari Masjid Agung Keraton hingga gerbang Lawana Lanto, teater ini menggambarkan perjalanan kabanti dari ruang transenden menuju publik yang lebih luas.

Pawai 500 Padamara atau lampu pelita di Benteng Keraton Buton (Foto. RRI/Fatin)
Tak hanya itu, penampilan rebana Maludu, pawai 500 padamara atau lampu pelita, artistik buah nenas raksasa setinggi tiga meter, hingga tarian mangaru menjadi bagian utuh dari perayaan ini. Kombinasi visual dan suara menciptakan pengalaman teatrikal yang meresap hingga relung budaya penonton.
Sabtu siang, pementasan berlanjut secara gerilya, naik bus dari Loji ke Topa, lalu naik kapal dari Topa ke Kotamara, hingga ke sumur umum Naganganaumala. Teater bukan lagi eksklusif milik panggung, melainkan hadir menyapa masyarakat di ruang-ruang sehari-hari.
Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Baubau, Masrun, mengapresiasi pementasan ini sebagai langkah penting dalam pelestarian budaya. Ia menyebutkan, pada 2023 lalu, kabanti Kaluku Panda telah resmi diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTb) Nasional.
“Pementasan seperti ini sangat membantu pemerintah. Meski kami rutin menggelar Festival Kabanti, peminat dari kalangan remaja masih sangat minim,”ungkapnya.
Ia berharap pementasan-pementasan inovatif seperti karya Teater Sora bisa menggugah minat generasi muda untuk kembali mencintai kabanti. “Empat kali festival kami gelar, tapi remaja yang ikut masih minim. Ini pekerjaan rumah kita semua,”imbuhnya.
Lebih dari sekadar pertunjukan seni, Banti to Akoro adalah panggilan budaya. Ia mengajak publik, terutama generasi muda, untuk tidak hanya mengenang, tetapi menghidupkan kembali nilai-nilai dalam kabanti. Bukan sekadar warisan yang dibingkai, tapi warisan yang dihidupi.
Melihat antusiasme dan upaya gigih Teater Sora, akankah "Banti to Akoro" menjadi titik balik kebangkitan kabanti di tengah generasi muda Buton? Hanya waktu yang bisa menjawabnya, namun langkah awal yang telah ditorehkan sungguh menjanjikan.