Cek Fakta: Tidak Benar Imunisasi Berbahaya
- 23 Feb 2025 19:01 WIB
- Baubau
KBRN: Baubau, imunisasi adalah suatu proses untuk membentuk atau meningkatkan sistem kekebalan tubuh dengan cara memasukkan vaksin (vaksinasi) ke dalam tubuh. Yang bertujuan untuk mendapatkan imunitas atau kekebalan anak secara individu. Saat ini berbagai mitos dan kepercayaan sering tersebar di masyarakat, baik secara langsung dari mulut ke mulut maupun melalui media sosial. Salah satu mitos yang sering beredar adalah mengenai Mitos dan fakta tentang imunisasi yang beredar di masyarakat.
Melansir di situs Kemenkes RI, Semakin meningkatnya informasi yang salah tentang imunisasi menimbulkan kekhawatiran berlebihan yang tidak beralasan tentang keamanan dan dampak imunisasi di tengah masyarakat. apakah hal tersebut benar atau hanya sekadar mitos belaka. Mari kita coba telaah kebenaran dari klaim ini melalui pendekatan cek fakta.
Mitos 1: Imunisasi Tidak Penting karena Penyakitnya Sudah Hilang
Dilansir dari sebuah artikel di UNICEF, saat ini di seluruh dunia ada sekitar 20 juta anak yang belum diimunisasi atau mendapatkan imunisasi dasar tidak lengkap, karena menganggap wabah penyakitnya sudah hilang. Akibatnya, beberapa penyakit berbahaya, yang dulu bisa dicegah oleh vaksin, kini muncul kembali di negara-negara maju dan berkembang, termasuk campak, pertusis (batuk rejan), difteri dan polio.
Mitos 2: Imunisasi Menyebabkan Penyakit
Pemberian imunisasi ada kalanya diikuti dengan efek simpang atau kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI), seperti demam, sakit kepala, nyeri dan bengkak di sekitar area suntikan, kelelahan, anak menjadi rewel dan lain sebagainya. Namun, ini merupakan efek samping yang normal dan biasanya akan sembuh sendiri setelah 3-4 hari.
Mitos 3: Vaksin Mengandung Bahan Berbahaya
Kandungan vaksin terdiri dari berbagai bahan yang dapat dikelompokkan ke dalam 2 kategori komponen, yaitu:
· Komponen utama
Komponen utama vaksin adalah antigen, yaitu kuman yang telah dilemahkan atau dimatikan untuk merangsang pembentukan sel-sel antibodi dan kekebalan tubuh. Sel-sel antibodi ini yang akan melindungi tubuh dari serangan penyakit, jika terpapar bakteri atau virus penyebab penyakit tersebut.
· Komponen tambahan
Komponen tambahan ini kadarnya rendah dan aman, terdiri dari:
- Zat penstabil, seperti sukrosa dan albumin, untuk menjaga stabilitas vaksin saat disimpan dengan sistem rantai dingin.
- Antibiotik dalam kadar yang sangat rendah, seperti neomycin, untuk mencegah kontaminasi bakteri saat vaksin diproduksi.
- Bahan pengawet yang berfungsi untuk mencegah pertumbuhan bakteri dan jamur, seperti thimerosal, dan ditambahkan ke dalam vaksin dengan kemasan multidosis.
- Ajuvan yang berperan untuk meningkatkan respon imunitas spesifik pada individu penerima, dan ditambahkan ke dalam beberapa jenis vaksin. Contohnya, garam aluminium.
Mitos 4: Imunisasi Hanya Perlu Dilakukan Sekali
Imunisasi penting untuk dilakukan sejak bayi baru lahir hingga berusia 2 tahun, sesuai dengan jadwal dan jenis yang telah ditentukan oleh Kementerian Kesehatan RI dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Tujuannya untuk melindungi anak dari serangan infeksi penyakit berbahaya, yang dapat menyebabkan masalah kesehatan serius, cacat pada anak hingga kematian. Orang tua harus memastikan anak mendapatkan imunisasi dasar lengkap secara tepat waktu.
Mitos 5: Anak yang Sehat Tidak Membutuhkan Imunisasi
Faktanya, sistem kekebalan tubuh bayi baru lahir hingga usia 2 tahun belum berkembang dengan sempurna, walaupun kondisi tubuhnya sehat dan pertumbuhannya sesuai grafik pertumbuhan anak seusianya. Selain itu juga, infeksi penyakit menular tidak bisa diprediksi dan bisa terjadi kapan saja, sehingga lebih baik mencegah dengan memperkuat kekebalan tubuh anak, baik yang sehat maupun tidak sehat, melalui imunisasi.
Mitos 6: ASI Dapat Menjadi Pengganti Vaksin
ASI mengandung semua nutrisi yang dibutuhkan anak, termasuk antibodi untuk membentuk kekebalan tubuhnya. Pemberian ASI eksklusif, disertai makanan dengan gizi lengkap dan seimbang, memang dapat memberi perlindungan secara umum pada anak. Namun, perlindungan terhadap penyakit-penyakit tertentu hanya bisa didapatkan melalui vaksin, sehingga anak wajib mendapatkan imunisasi dasar lengkap.
Mitos 7: Vaksin Tidak Efektif dalam Mencegah Penyakit
Vaksin telah terbukti efektif mencegah infeksi dan penyebaran wabah penyakit menular. Salah satu bukti keberhasilan vaksin adalah hilangnya penyakit cacar atau smallpox sejak tahun 1900-an. Padahal, zaman dulu 1 dari 3 penderita penyakit cacar meninggal dunia akibat infeksi virus variola ini.
Mitos 8: Imunisasi Dapat Menyebabkan Autisme
Hingga saat ini, belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan keterkaitan autisme dengan imunisasi jenis apapun. Apalagi vaksin yang digunakan dalam setiap program imunisasi nasional telah diuji oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), lulus prakualifikasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), serta telah mendapatkan rekomendasi NITAG (National Immunization Technical Advisory Groups.
Mitos 9: Kekebalan Tubuh Lebih Baik Dibangun Secara Alami
Banyak penyakit yang seringkali dianggap ringan, seperti campak, bisa menyebabkan komplikasi kesehatan yang berat bahkan mematikan, hanya dengan mengandalkan kekebalan tubuh alami. Selain itu, kekebalan alami tidak selalu memberikan perlindungan jangka panjang, contohnya dalam hal penyakit batuk rejan (pertusis).
Mitos 10: Imunisasi Hanya untuk Anak-anak
Selain untuk anak-anak, imunisasi juga berperan penting dalam meningkatkan kekebalan tubuh orang dewasa, termasuk yang sudah menjalankan gaya hidup sehat, dalam melawan serangan infeksi penyakit-penyakit tertentu.