Museum Multatuli Disiapkan Jadi Ruang Kreatif UMKM

  • 21 Jul 2026 06:38 WIB
  •  Banten

RRI.CO.ID, Lebak - Pemerintah Kabupaten Lebak melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) berencana menjadikan Museum Multatuli dan Gedung Juang sebagai ruang kreatif bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), khususnya di sektor industri kopi dan ekonomi kreatif. Rencana tersebut disampaikan Kepala Disbudpar Kabupaten Lebak, Yosep Mohamad Holis di Lebak, Senin, 20 Juli 2026.

Fasilitas publik yang dikelola pemerintah harus mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Ia mengatakan, keberadaan Museum Multatuli dan Gedung Juang tidak hanya berfungsi sebagai destinasi wisata sejarah, tetapi juga dapat menjadi pusat aktivitas ekonomi kreatif.

"Kami ingin fasilitas publik ini hidup dan memberikan manfaat langsung kepada masyarakat. Museum Multatuli dan Gedung Juang harus menjadi ruang kolaborasi bagi pelaku UMKM dan komunitas kreatif," kata Yosep .

Pemerintah daerah memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan ruang yang mampu mendorong tumbuhnya kreativitas masyarakat. Ia menjelaskan, Disbudpar Kabupaten Lebak saat ini memiliki tugas mengembangkan 17 subsektor ekonomi kreatif.

Dari berbagai subsektor tersebut, bidang kuliner menjadi salah satu yang memiliki potensi besar untuk terus berkembang. Industri food and beverage, termasuk bisnis kopi, dinilai mengalami pertumbuhan yang cukup pesat dalam beberapa tahun terakhir.

"Kami melihat industri kopi memiliki peluang yang sangat besar. Karena itu pemerintah harus hadir memberikan ruang dan dukungan agar para pelaku usaha bisa berkembang," ujarnya. Yosep mengatakan, ruang kreatif yang akan disiapkan nantinya dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan.

Mulai dari pameran produk UMKM, pelatihan, diskusi, hingga promosi produk lokal. Ruang tersebut juga dapat menjadi tempat berkumpulnya komunitas kreatif yang selama ini membutuhkan wadah untuk beraktivitas.

Disbudpar juga berencana memfasilitasi pelaku industri kopi dan pengelola kafe agar dapat berkembang secara berkelanjutan. Menurut Yosep, budaya minum kopi di Kabupaten Lebak juga perlu terus diperkuat sebagai bagian dari gaya hidup masyarakat sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi.

"Kami ingin ekosistem kopi di Lebak semakin kuat. Bukan hanya menjual minuman, tetapi juga membangun budaya, jejaring usaha, dan kreativitas," katanya.

Ia melihat telah terjadi perubahan pola hidup masyarakat Kabupaten Lebak dalam beberapa tahun terakhir. Peningkatan daya beli masyarakat turut mendorong tumbuhnya berbagai usaha kafe di sejumlah wilayah.

Kehadiran kafe kini tidak lagi sekadar menjadi tempat menikmati secangkir kopi. Namun, menurut Yosep, kafe telah berkembang menjadi ruang publik yang dimanfaatkan masyarakat untuk bersosialisasi.

Selain itu, banyak kalangan memanfaatkan kafe sebagai tempat berdiskusi, bekerja, hingga menggelar pertemuan bisnis. Kondisi tersebut dinilai menjadi peluang besar untuk mengembangkan sektor ekonomi kreatif berbasis komunitas.

Ia berharap kolaborasi antara pemerintah, pelaku UMKM, komunitas, dan sektor swasta dapat terus diperkuat. "Kami optimistis jika seluruh pihak bergerak bersama, potensi ekonomi kreatif di Kabupaten Lebak akan semakin berkembang, mampu menciptakan lapangan kerja baru, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat," ucap Yosep.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....