Keluarga hingga Media Sosial Picu Tekanan Mental Remaja

  • 01 Apr 2026 10:48 WIB
  •  Banten
Poin Utama
  • Konselor
  • Psikolog
  • Tekanan Mental Remaja

RRI.CO.ID, Serang – Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Mental Remaja Sedunia yang jatuh pada tanggal 2 Maret, perhatian kesehatan mental pada anak dan remaja dinilai perlu diperkuat. Tekanan tidak hanya berasal dari lingkungan keluarga, melainkan dari lingkungan sekolah, pergaulan, hingga pengaruh media sosial.

Konselor Rumah konseling Aku Temanmu di Kota Serang, Fita Berliana Akbar, 1 April 2026 mengatakan sebagian besar persoalan mengenai kesehatan mental remaja saat ini berkaitan dengan kondisi keluarga. Menurutnya, hampir 90 persen isu yang muncul ketika konseling berakar dari dinamika keluarga, khususnya terkait pola pengasuhan. “Kalau dirunut dari awal, hampir 90 persen sumber persoalan yang dibahas remaja itu berasal dari kondisi keluarga atau pola pengasuhan,” ujarnya.

Ia menjelaskan persoalan tersebut dapat berkembang ke masalah lainnya, seperti kesulitan dalam hubungan sosial, konflik pergaulan, hingga persoalan percintaan. Selain faktor keluarga, Elin juga melihat pengaruh media sosial dan dunia digital menjadi salah satu tekanan yang semakin dirasakan oleh remaja.

Sekitar 50 persen masyarakat yang mengakses layanan di Rumah Konseling Aku Temanmu merupakan kalangan remaja. “Banyak remaja yang datang karena tekanan dari media sosial, perbandingan dengan orang lain, atau pengalaman perundungan di lingkungan sekolah,” katanya.

Pandangan serupa juga disampaikan Psikolog Klinis dari Caring Hope, Putri Dian Diakonia. Ia melihat dalam beberapa tahun terakhir semakin banyak anak dan remaja yang datang berkonsultasi dengan berbagai keluhan psikologis.

Menurutnya, masalah yang sering muncul pada anak di antaranya kesulitan mengelola emosi, mudah marah, kesulitan fokus, serta menarik diri dari lingkungan sosial. Sementara pada remaja, persoalan yang kerap ditemui antara lain perasaan tidak percaya diri, tekanan akademik, konflik dengan orang tua, hingga perasaan kesepian. “Sering kali anak atau remaja sebenarnya bukan bermasalah, tetapi mereka sedang kelelahan secara emosional dan tidak memiliki ruang yang aman untuk mengekspresikan perasaan mereka,” katanya.

Ia juga menilai tekanan yang dialami remaja saat ini semakin kompleks, terutama dengan pengaruh media sosial yang membuat mereka mudah membandingkan diri dengan orang lain. “Akibatnya muncul perasaan seperti tidak cukup baik atau merasa tertinggal dari teman-temannya,” ujarnya.

Putri menambahkan, perubahan perilaku pada anak seperti menjadi lebih pendiam, mudah marah, atau perubahan pola tidur dan pola makan dapat menjadi sinyal bahwa mereka sedang mengalami tekanan emosional. Karena itu, ia menekankan pentingnya kehadiran orang tua dan lingkungan terdekat untuk memberikan dukungan emosional bagi anak. “Anak perlu merasa bahwa mereka didengar, dipahami, dan tidak dihakimi ketika menceritakan perasaan mereka,” katanya.

Ia menilai langkah mencari bantuan profesional sejak dini juga penting dilakukan ketika anak menunjukkan perubahan perilaku yang signifikan dan berlangsung terus menerus. “Semakin cepat kita memahami kondisi anak, maka semakin besar peluang kita membantu mereka tumbuh dengan lebih sehat secara psikologis,” ujarnya.

Ia menambahkan layanan di Caring Hope juga menyediakan layanan terapi psikologis bagi klien yang memerlukan pendampingan lebih lanjut setelah melalui proses asesmen bersama psikolog. Dengan dukungan dari keluarga, sekolah, serta tenaga profesional, diharapkan anak dan remaja dapat tumbuh dalam lingkungan yang lebih sehat secara emosional dan psikologis.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....