Sejumlah Faktor Penyebab Turunnya Ekosistem Terumbu Karang
- 04 Jul 2024 14:58 WIB
- Banten
KBRN, Serang: Sekitar 70 persen terumbu karang di pesisir Indonesia saat ini memiliki tutupan karang kurang dari 50 persen. Angka ini menunjukkan kondisi terumbu karang dalam kondisi buruk dan cukup baik. Sementara 30 persennya, memiliki tutupan karang lebih dari 50 persen, atau dalam kondisi baik dan sangat baik.
Analis Kelautan dan Perikanan Loka Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (PSPL) Serang Kementerian Kelautan & Perikanan RI, Ayuningtyas Sekarputri R menuturkan, beberapa penyebab degradasi/penurunan ekosistem terumbu karang yakni pengambilan karang, penangkapan ikan dengan penggunaan bahan peledak.
"Ada juga karena racun, dan alat pancing tidak ramah lingkungan, pencemaran yang disebabkan oleh industri dan rumah tangga, pengembangan daerah wisata tidak memperhatikan lingkungan, sampah dan sedimentasi,” katanya, Kamis (4/7/2024).
Atas dasar itu, Loka PSPL Serang mendukung Tanggung Jawab Sosial Lingkungan (TJSL) PT. Telkom Indonesia, yang tahun ini (2024-red) berupa transplantasi terumbu karang di Pulau Tunda, Desa Wargasara, Kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang, Banten dengan menggandeng Lembaga Amil Zakat Harapan Dhuafa (LAZ Harfa).
“Kami berharap berpedoman pada metode yang direkomendasikan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan. Web spider atau rak jaring laba-laba yang akan diterapkan pada transplantasi tahun ini di Pulau Tunda merupakan metode yang direkomendasikan. Kami juga menyarankan dilakukan monitoring pasca-transplantasi untuk memantau perkembangan dan kesehatan karang,” kata dia.
Koordinator Forum Pelestari Terumbu Karang (F-PTK) Provinsi Banten, Nurwarta Wiguna menegaskan, transplantasi terumbu karang di Pulau Tunda harus didorong agar terus dilakukan, baik oleh perorangan melalui kegiatan wisata konservasi maupun program peduli lingkungan dari lembaga/organisasi/perusahaan pemerintah maupun swasta.
“Perairan Pulau Tunda saat ini merupakan salah satu tempat yang sangat cocok untuk dijadikan lokasi pembibitan karang atau Coral Stock Center, karena relatif aman dari potensi kerusaakan atau kepunahan, terutama yang disebabkan faktor bencana alam, seperti gempa, tsunami dan gunung meletus," ujar dia.
Sementara di lokasi lain, menurutnya sangat berpeluang mengalami kerusakan atau kepunahan karena adanya potensi ancaman bencana alam tersebut. Kasus ini pernah terjadi pada 22 Desember 2018, ketika terjadi tsunami akibat longsoran Gunung Anak Krakatau.
"Terumbu Karang di sekitar Pulau Badul, Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang mengalami kerusakan yang sangat parah akibat terjangan gelombang besar tersebut," kata dia.
Perwakilan Lembaga Amil Zakat Harapan Dhuafa (LAZ Harfa), Indah Badi'ah menjelaskan, kegiatan pelatihan merupakan rangkaian dari Program TJLS tahun 2024 dari PT. Telkom Indonesia yang menggandeng LAZ Harfa.
“Tujuannya untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan dasar tentang transplantasi dan monitoring terumbu karang. Diharapkan setelah pelatihan, tim pelaksana bisa menerapkan kebijakan, baik manajemen maupun teknis transplantasi terumbu karang dengan baik dan benar,” katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....