Batik Bukan Sekadar Kain, Tapi Jadi Identitas Budaya

  • 02 Okt 2026 10:15 WIB
  •  Banten

RRI.CO.ID, Serang - Batik tidak hanya dipandang sebagai kain dengan beragam motif, tetapi juga menjadi bagian dari identitas budaya yang merepresentasikan nilai, sejarah, dan kearifan lokal suatu daerah. Hal tersebut disampaikan Winner Duta Batik Kabupaten Lebak 2025, Uvi Yulia Safitri, yang menilai setiap motif batik memiliki makna filosofis yang berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat setempat.

Menurut Uvi, pemahaman terhadap filosofi tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga batik agar tidak hanya digunakan, tetapi juga dihargai sebagai warisan budaya. “Hari Batik Nasional itu bukan cuma tentang memakai batik di hari ini, tapi juga jadi momen untuk lebih mengenal dan menghargai cerita yang ada di balik motif batik itu sendiri,” ujar Uvi dalam program SPADA RRI Pro 2 Banten, Jumat, 2 Oktober 2026.

Dalam kesempatan yang sama, Uvi menjelaskan, kekhasan batik Lebak salah satunya terlihat dari filosofi yang dituangkan melalui motif. Nilai-nilai tersebut bersumber dari kearifan lokal dan budaya masyarakat yang berkembang di Kabupaten Lebak.

“Salah satu contoh dapat dilihat pada motif Leuit Sajimat yang dikenakannya. Motif tersebut terinspirasi dari kearifan lokal masyarakat Lebak, khususnya tradisi penyimpanan padi secara tradisional. Leuit atau lumbung menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dalam menyimpan hasil panen sekaligus memiliki makna sebagai bentuk rasa syukur atas hasil yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa,” kata Uvi.

Uvi menambahkan, keberadaan filosofi dalam motif batik membuat kain tersebut tidak berhenti sebagai produk budaya, tetapi juga menjadi sarana untuk mengenalkan identitas daerah. Nilai-nilai tersebut dapat dibawa dan diperkenalkan kepada masyarakat luas, termasuk melalui berbagai platform digital.

Ia menilai perkembangan fashion dan teknologi digital justru dapat menjadi peluang bagi batik Lebak untuk semakin dikenal. Batik dapat dikemas dalam bentuk busana yang lebih modern dan disesuaikan dengan tren, sementara identitas serta nilai filosofis dalam motifnya tetap dipertahankan.

“Yang perlu kita jaga adalah identitas dan nilai budayanya, sementara cara mengemasnya sendiri dengan cara mengenalkannya terus berkembang dan sesuai dengan perkembangan platform-platform digital,” ucap Uvi.

Karena itu, Uvi mengajak generasi muda untuk tidak hanya melihat batik sebagai warisan masa lalu, tetapi turut menggunakan dan mengembangkan batik dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, mengenakan batik merupakan salah satu cara sederhana untuk menunjukkan identitas sekaligus menjaga keberlangsungan budaya lokal.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....