Bank Sampah Digital Dorong Ekonomi Sirkular
- 24 Agt 2026 07:06 WIB
- Banten
RRI.CO.ID, Serang - Bank Sampah Digital mendorong perubahan pola pengelolaan sampah masyarakat dari sekadar membuang menjadi memilah dan mengelola. Konsep tersebut diarahkan untuk membangun ekonomi sirkular, sehingga sampah yang masih memiliki nilai dapat kembali dimanfaatkan dan tidak langsung berakhir di tempat pembuangan akhir.
CEO Bank Sampah Digital, Desty Eka Putri Sari, mengatakan masyarakat perlu mengubah kebiasaan dalam memperlakukan sampah sejak dari rumah. Menurutnya, kebiasaan membuang seluruh sampah secara bercampur membuat proses pengelolaan menjadi lebih sulit dan menghilangkan potensi ekonomi dari sampah.
Desty menjelaskan, konsep ekonomi sirkular dimulai dengan mengenali jenis sampah yang dihasilkan dari aktivitas sehari-hari. Sampah plastik, kertas, dan material lain yang masih bernilai dapat dipilah dan disetorkan ke bank sampah.
“Sekarang tidak hanya cukup untuk buanglah sampah pada tempatnya. Sekarang harus kelola dan pilah,” ujarnya dalam program Green Radio bersama RRI Pro1 Banten, Sabtu, 22 Agustus 2026.
Sementara sampah organik, menurut Desti, dapat diselesaikan di tingkat rumah tangga. Pengolahan dapat dilakukan melalui biopori maupun kompos, sedangkan sampah yang tidak dapat dikelola masyarakat dapat diteruskan kepada pihak yang memiliki kewenangan dalam pengelolaan sampah.
Dengan pola tersebut, jumlah sampah yang masuk ke tempat pemrosesan akhir d kokapat ditekan. Kondisi itu sekaligus dapat memperpanjang usia tempat pembuangan akhir karena tidak seluruh sampah rumah tangga langsung dibawa ke lokasi tersebut.
Desty menilai perubahan pola pikir masyarakat menjadi tantangan utama dalam membangun sistem pengelolaan sampah. Sebab, sebagian masyarakat masih menganggap sampah sebagai barang yang sudah tidak memiliki manfaat.
Karena itu, edukasi mengenai pemilahan sampah harus menggunakan bahasa yang mudah dipahami dan disesuaikan dengan karakter masyarakat. Bank Sampah Digital juga menyesuaikan pendekatan sosialisasi berdasarkan komunitas yang didampingi, termasuk menggunakan bahasa lokal maupun pendekatan keagamaan.
“Jadi lebih ke perspektif dan istilah. Karena istilah-istilah di dunia aktivisme lingkungan itu biasanya istilahnya elit, sehingga diksinya harus diturunkan ke diksi yang paling operasional,” ujarnya.
Desty menyebut pendekatan tersebut telah diterapkan kepada berbagai kelompok masyarakat, termasuk sekolah, kampus, perkantoran, industri, rumah tangga, serta lembaga keagamaan. Hingga 2026, Bank Sampah Digital mencatat sekitar 6.800 keluarga yang melakukan pemilahan sampah dari rumah.
Ia berharap gerakan pemilahan sampah terus berkembang sehingga masyarakat tidak hanya membuang sampah pada tempatnya, tetapi juga memahami proses pengelolaan setelah sampah dihasilkan, katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....