Pompanisasi Jaga Produksi Padi Lebak saat Kemarau

  • 20 Agt 2026 11:21 WIB
  •  Banten

RRI.CO.ID, Lebak - Petani di Kabupaten Lebak, memanfaatkan air permukaan untuk mengairi sawah melalui pompanisasi di tengah kemarau panjang yang melanda wilayah tersebut. Langkah itu dilakukan untuk memastikan tanaman padi tetap mendapatkan pasokan air yang cukup hingga memasuki masa panen.

Salah seorang petani di Blok Kolelet, Rangkasbitung, Suhaemi, mengatakan tanaman padi di wilayahnya saat ini rata-rata berusia 60 hari setelah tanam. Tanaman padi tersebut diperkirakan mulai memasuki masa panen pada Oktober 2026. "Tanaman padi sekarang rata-rata sudah berusia 60 hari setelah tanam dan diperkirakan panen pada Oktober," kata Suhaemi, Kamis, 20 Agustus 2026.

Ia menjelaskan, kebutuhan air untuk tanaman padi seluas sekitar 70 hektare di wilayahnya masih dapat dipenuhi melalui penyedotan air permukaan. Air tersebut disedot dari aliran Sungai Ciujung menggunakan pompa untuk kemudian dialirkan ke area persawahan.

Suhaemi menilai pompanisasi menjadi salah satu solusi penting bagi petani untuk mempertahankan tanaman padi selama kemarau panjang. "Hingga saat ini kebutuhan air untuk sekitar 70 hektare sawah masih terpenuhi dari Sungai Ciujung melalui pompanisasi," ujarnya.

Tanpa dukungan pasokan air dari pompanisasi, tanaman padi berpotensi mengalami kekurangan air yang dapat mengganggu pertumbuhan dan produksi. Ia mengatakan pompanisasi tersebut dibiayai oleh pemerintah desa setempat sebagai bentuk dukungan terhadap keberlangsungan produksi pertanian. "Pada musim kemarau panjang seperti sekarang, pompanisasi sangat diperlukan agar tanaman padi tetap terairi dan produksi pangan tetap terjaga," katanya.

Hal serupa disampaikan Ketua Kelompok Tani Sukabungah, Desa Tambakbaya, Kecamatan Cibadak, Ruhiana. Ia mengatakan pasokan air dari pompanisasi yang memanfaatkan air Sungai Ciujung hingga kini masih mencukupi kebutuhan petani di wilayahnya.

Tanaman padi yang berada di wilayah kelompok taninya mencakup lahan sekitar 50 hektare. "Pasokan air dari pompanisasi sampai sekarang masih mencukupi kebutuhan petani, sehingga tanaman padi seluas 50 hektare dapat terus tumbuh," kata Ruhiana.

Ia memperkirakan tanaman padi di wilayah tersebut dapat dipanen sekitar September mendatang. Ruhiana berharap ketersediaan air melalui pompanisasi tetap terjaga sampai seluruh tanaman memasuki masa panen. Kepala Bidang Produksi Dinas Pertanian Kabupaten Lebak Dodi Hermawan mengatakan pemerintah daerah telah mengambil langkah untuk mengantisipasi dampak kemarau terhadap sektor pertanian.

Pihaknya menginstruksikan petugas penyuluh pertanian lapangan (PPL) agar mendorong kelompok tani memanfaatkan pompanisasi bantuan pemerintah. "Kami sudah menginstruksikan PPL agar kelompok tani dapat memanfaatkan pompanisasi bantuan pemerintah untuk mengatasi pasokan air selama kemarau panjang," kata Dodi.

Pemanfaatan pompanisasi diharapkan mampu menjaga produktivitas lahan pertanian sekaligus mengurangi risiko tanaman mengalami kekeringan. Dodi menambahkan, keberadaan pompanisasi tidak hanya penting untuk mempertahankan tanaman padi hingga panen, tetapi juga mendukung ketersediaan pangan di Kabupaten Lebak.

"Dengan pemanfaatan pompanisasi, produksi pangan dapat terjaga sehingga mampu mendukung swasembada pangan yang berkelanjutan dan meningkatkan kesejahteraan petani," ujarnya.

Upaya pengairan melalui pompanisasi tersebut menjadi bagian dari strategi petani dan pemerintah daerah dalam menghadapi musim kemarau panjang, sekaligus menjaga keberlanjutan produksi padi di Kabupaten Lebak.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....