Banten Darurat Sampah, 257 Warga Dilatih Olah Sampah di Kopassus

  • 16 Agt 2026 11:53 WIB
  •  Banten
Poin Utama
  • Sebanyak 257 warga dari 11 desa di Serang mengikuti ajang Eco Waste Desa Berkelanjutan pada Sabtu, 15 Agustus 2026.
  • Program ini menggabungkan pelatihan praktik dan perlombaan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengelola sampah secara mandiri di tingkat desa.
  • Peserta diberikan pelatihan langsung tentang pembuatan kompos, pembuatan lubang biopori, budidaya maggot, dan optimalisasi penggunaan pekarangan rumah.

RRI.CO.ID, Serang - Sebanyak 257 warga dari 11 desa di wilayah Serang berkumpul di Bumi Perkemahan Grup 1 Kopassus untuk mengikuti ajang Eco Waste Desa Berkelanjutan, Sabtu, 15 Agustus 2026. Kegiatan berkonsep pelatihan dan perlombaan ini digelar untuk mendongkrak kepedulian masyarakat dalam mengelola sampah secara mandiri dari tingkat desa.

Ketua Pelaksana Eco Waste Desa Berkelanjutan, Ariani Damayanti menjelaskan, acara ini tak cuma sekadar lomba buat konten di media sosial. Para peserta dibekali praktik langsung cara mengolah sampah rumahan, mulai dari teknik pembuatan kompos, lubang biopori, budi daya maggot, sampai pemanfaatan pekarangan rumah.

"Kita ingin kegiatan ini tak cuma berhenti di acara seremonial saja. Warga diajari langsung cara mengolah sampah organik jadi pupuk atau pakan ternak. Harapannya, kebiasaan memilah dan mengolah sampah ini terus jalan dan dipraktikkan di rumah masing-masing," kata Ariani di lokasi acara.

Persoalan sampah di Banten memang sudah masuk tahap mengkhawatirkan. Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Banten, Wawan Gunawan mengingatkan, penanganan sampah tidak bisa lagi menggantungkan harapan penuh pada TPA yang makin overload.

Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) 2025, Provinsi Banten menghasilkan 8.126 ton sampah saban harinya. Dari jumlah raksasa itu, cuma 13,4 persen atau sekitar 1.092 ton yang terkelola dengan benar. Sisanya, sebanyak 46,4 persen dibuang begitu saja ke TPA lewat metode open dumping, dan 40,2 persen terbakar secara terbuka atau dibuang liar ke sungai dan lingkungan.

"Angka ini menggeledik sekali. Karena setiap hari kita memproduksi sampah, maka setiap hari pula kita harus ikut bertanggung jawab terhadap sampah yang kita hasilkan. Pengurangan sampah ini mutlak harus dikeroyok dari hulu, mulai dari rumah tangga, pasar, sampai tempat wisata," ucap Wawan.

Wawan menambahkan, jika pemilahan sampah organik dan anorganik sudah jalan di tingkat RT dan desa, beban TPA pasti bakal menyusut drastis. Langkah kecil dari tiap keluarga dinilai sangat ampuh untuk mencegah gundukan sampah liar di pinggir jalan.

"Kalau dari rumah tangganya sudah mau memisahkan sampah organik buat kompos atau maggot, sisa yang dibuang ke truk sampah itu sedikit sekali. Kalau semua desa bergerak bareng, lingkungan Banten pasti jauh lebih bersih dan sehat," kata Wawan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....