Kemarau Panjang Picu Krisis Air Pertanian Lebak

  • 01 Agt 2026 18:27 WIB
  •  Banten

RRI.CO.ID, Lebak - Kemarau panjang yang melanda Kabupaten Lebak mulai berdampak serius terhadap sektor pertanian. Selama tiga bulan terakhir, para petani di berbagai wilayah mengeluhkan kesulitan mendapatkan air untuk mengairi lahan pertanian mereka.

Kondisi tersebut mengakibatkan kualitas hasil panen, terutama komoditas sayuran, mengalami penurunan. Selain kualitas yang menurun, harga jual hasil panen di tingkat petani juga ikut terdampak.

Sebagian besar petani di Kabupaten Lebak menjual hasil pertanian mereka secara langsung kepada masyarakat melalui pasar tradisional. Pasar Rangkasbitung dan Pasar Semi menjadi dua lokasi utama pemasaran hasil panen petani setempat.

Namun, kondisi cuaca yang kering membuat hasil panen tidak lagi sebaik pada musim penghujan. Aji, seorang petani sekaligus pedagang sayuran asal Kecamatan Cibadak, Kabupaten Lebak, mengaku merasakan dampak kemarau secara langsung.

Sulitnya memperoleh air membuat tanaman sayuran tidak tumbuh secara optimal. "Air sangat sulit didapat. Akibatnya kualitas sayur yang kami tanam tidak sebagus biasanya, sehingga nilai jualnya juga ikut menurun," kata Aji,Sabtu, 1 Agustus 2026.

Ia mengatakan, hasil panen yang kurang berkualitas membuat pembeli menjadi lebih selektif. Akibatnya, sebagian hasil panen membutuhkan waktu lebih lama untuk terjual.

Keluhan serupa juga disampaikan Heri, petani Cibadak lainnya. Heri mengeluhkan, kualitas sayuran yang menurun membuat hasil panen sulit dipasarkan. "Sayur yang kualitasnya kurang bagus tentu lebih sulit dijual. Pembeli maunya sayur yang segar, sementara kondisi sekarang sangat dipengaruhi musim kemarau," ujar Heri.

Di sisi lain, kemarau panjang juga menyebabkan sebagian petani tidak dapat menanam karena tidak memiliki sumber air yang memadai. Berkurangnya produksi sayuran membuat pasokan di pasar tradisional mengalami penurunan.

Akibatnya, harga sejumlah komoditas sayuran di Kabupaten Lebak mengalami kenaikan cukup signifikan. Harga ketimun yang biasanya berkisar antara Rp5.000 hingga Rp8.000 per kilogram kini naik menjadi Rp14.000 per kilogram.

Harga tomat yang sebelumnya sekitar Rp4.000 per kilogram kini mencapai Rp12.000 per kilogram. Kenaikan harga tersebut mulai dirasakan masyarakat yang berbelanja kebutuhan sayuran sehari-hari.

Pedagang berharap kondisi cuaca segera membaik agar pasokan kembali normal dan harga menjadi lebih stabil. Para petani juga berharap adanya dukungan pemerintah dalam penyediaan sarana irigasi maupun bantuan sumber air untuk pertanian selama musim kemarau.

Langkah tersebut dinilai penting agar produktivitas pertanian tetap terjaga meski menghadapi cuaca ekstrem. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau tahun ini masih akan berlangsung hingga awal tahun 2027.

Kondisi tersebut membuat petani di Kabupaten Lebak diharapkan mulai melakukan berbagai langkah antisipasi guna meminimalkan dampak terhadap sektor pertanian dan menjaga ketersediaan pasokan pangan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....