Dinas Pertanian Lebak Intensif Atasi Kekeringan Lahan Sawah

  • 27 Jul 2026 05:50 WIB
  •  Banten

RRI.CO.ID, Lebak - Dinas Pertanian Kabupaten Lebak, menerjunkan Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) dan Petugas Penyuluh Lapang (PPL) untuk mengatasi dampak kekeringan akibat musim kemarau panjang tahun ini. Langkah tersebut dilakukan guna menyelamatkan tanaman padi yang terdampak kekurangan pasokan air di sejumlah areal persawahan.

Pemerintah daerah berharap upaya pendampingan tersebut mampu menjaga produktivitas pertanian dan mencegah terjadinya gagal panen. Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lebak Rahmat Yuniar mengatakan, petugas POPT dan PPL diterjunkan untuk melakukan pemantauan serta penanganan langsung di lapangan.

Pendampingan kepada petani dilakukan secara intensif agar tanaman padi tetap dapat tumbuh dan menghasilkan produksi pangan. "Kami menerjunkan petugas POPT dan PPL agar tanaman padi di areal persawahan yang mengalami kekeringan akibat kemarau panjang dapat diselamatkan sehingga tetap menghasilkan produksi pangan," kata Rahmat Yuniar di Lebak, Minggu, 26 Juli 2026.

Berdasarkan data Dinas Pertanian hingga pertengahan Juli 2026, areal persawahan yang mengalami kekeringan mencapai sekitar 294 hektare. Lahan terdampak tersebut tersebar di 16 kecamatan di Kabupaten Lebak.

Dari jumlah tersebut, sekitar 14 hektare di antaranya terancam mengalami gagal panen apabila tidak segera mendapatkan penanganan. Rahmat mengatakan para petugas di lapangan terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan kondisi tanaman.

Selain itu, petugas juga memberikan pendampingan teknis kepada petani mengenai langkah-langkah penanganan kekeringan. Berbagai upaya antisipasi dilakukan agar dampak kekeringan tidak semakin meluas ke wilayah pertanian lainnya. Pemerintah Kabupaten Lebak juga terus berkoordinasi dengan Dinas Pertanian Provinsi Banten dan Kementerian Pertanian.

Koordinasi tersebut dilakukan dalam rangka mitigasi serta penanggulangan bencana pertanian akibat musim kemarau. Salah satu langkah yang telah dilakukan adalah penyediaan sistem irigasi pompanisasi.

Melalui sistem tersebut, air permukaan maupun air bawah tanah dipompa untuk mengairi lahan sawah yang mengalami kekeringan. Ia mengapresiasi upaya pompanisasi yang mampu mengalirkan air ke sebagian besar lahan terdampak.

"Alhamdulillah, areal persawahan yang mengalami kekeringan kini sudah mulai teraliri air melalui sistem irigasi pompanisasi dengan memanfaatkan air permukaan dan air bawah tanah," ujarnya.

Dengan adanya tambahan pasokan air, pemerintah daerah optimistis tanaman padi dapat kembali tumbuh dengan baik. Rahmat memperkirakan sebagian areal persawahan akan memasuki masa panen pada Agustus 2026, sedangkan sisanya dipanen pada September 2026.

Ia juga mengimbau petani agar segera melaporkan apabila menemukan lahan yang mulai mengalami kekeringan. Diharapkan, sinergi antara petani, petugas POPT, PPL, pemerintah provinsi, dan Kementerian Pertanian mampu meminimalkan dampak kekeringan sehingga produksi padi tetap terjaga dan ketahanan pangan daerah dapat dipertahankan.

"Kami minta petani jika areal persawahan mengalami kekeringan akibat kemarau agar segera melapor kepada petugas POPT dan PPL setempat sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat," katanya.

Junaedi, petani asal Kalanganyar, Kabupaten Lebak, mengaku bersyukur karena sawah miliknya kini telah memperoleh pasokan air melalui pompanisasi. "Saya merasa lega setelah sawah teraliri pompanisasi. Tanaman padi sekarang kembali tumbuh subur dan kami berharap hasil panennya tetap baik," ujar Junaedi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....