Pandeglang Catat Inflasi Tertinggi di Provinsi Banten

  • 04 Jul 2026 10:12 WIB
  •  Banten

RRI.CO.ID, Pandeglang – Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Pandeglang merilis data inflasi Juni 2026 yang menempatkan daerah Pandeglang sebagai wilayah dengan tingkat inflasi year-on-year tertinggi di Provinsi Banten, yakni sebesar 3,68 persen. Angka tersebut melampaui ambang batas atas target inflasi pemerintah nasional sebesar 3,5 persen.

Kepala BPS Kabupaten Pandeglang, Achmad Widijanto, menyatakan dinamika kenaikan harga tersebut dipicu oleh berbagai kebijakan penyesuaian bahan bakar minyak jenis Pertamax dan Pertamax Turbo serta komoditas pelumas kendaraan bermotor. Kenaikan biaya transportasi dan operasional kendaraan disebutnya menjadi faktor dominan yang menekan daya beli masyarakat di tengah periode liburan serta persiapan tahun ajaran baru sekolah.

"Inflasi year-on-year sebesar 3,68 persen itu boleh dibilang sudah menjadi warning karena target pemerintah secara umum adalah 2,5 persen plus minus satu atau maksimal 3,5 persen. Kita sudah sedikit melebihi, artinya bisa menjadi warning terkait dengan kenaikan harga yang ada di pasar," kata Achmad, Sabtu 4 Juli 2026.

Ia memaparkan kelompok pengeluaran transportasi menjadi penyumbang inflasi bulanan terbesar dengan andil 0,27 persen akibat kenaikan harga bensin serta pelumas mesin yang cukup signifikan. Kondisi pasar terasa semakin terbebani karena biaya perawatan kendaraan roda dua yang sebelumnya terjangkau kini mengalami kenaikan harga hingga belasan persen dalam waktu singkat.

Komoditas bensin tercatat mengalami inflasi sebesar 4,89 persen, sementara harga pelumas mesin melonjak tajam hingga 17,56 persen pada bulan Juni 2026. Di sisi lain, harga beras masih menunjukkan tren kenaikan sebesar 3,69 persen dan memberikan andil inflasi daerah yang cukup berarti bagi ekonomi rumah tangga.

Meskipun terjadi inflasi pada sektor transportasi dan energi, beberapa komoditas pangan seperti daging ayam ras justru mengalami deflasi sebesar 5,32 persen. Penurunan harga telur ayam ras serta cabai rawit ini dipandang Achmad turut membantu meredam laju inflasi bulanan agar tidak melonjak lebih tinggi lagi di tingkat konsumen.

"Penyumbang inflasi terbesar justru pada non-makanan, yaitu bensin dan pelumas oli. Namun secara year-on-year selama 12 bulan penuh, memang kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama dengan andil 2,05 persen," ujarnya.

Perbandingan data lintas kabupaten dan kota di Provinsi Banten menunjukkan Kota Tangerang memiliki inflasi year-on-year terendah, yakni 2,36 persen. Sementara itu, Kota Serang mencatatkan inflasi tahunan sebesar 3,50 persen, menempatkan Pandeglang sebagai daerah dengan tekanan harga paling tinggi di antara wilayah pengamatan lainnya.

Menurut Achmad pemerintah daerah kini menghadapi tantangan serius karena inflasi year-on-year Pandeglang tercatat paling tinggi dibandingkan empat wilayah pemantauan lainnya di Banten, seperti Kota Tangerang dan Kota Serang. Belum lagi Achmad mengatakan pergerakan harga di pasar tradisional sangat dipengaruhi oleh kebijakan fiskal pusat serta ketidakstabilan kurs dolar Amerika Serikat yang berimbas langsung pada harga harga kebutuhan pokok.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....