Pedagang Emping Keluhkan Dagangan Sepi, Penjualan Turun Dibanding Masa Covid-19

  • 18 Jun 2026 06:59 WIB
  •  Banten

RRI.CO.ID, Serang - Pedagang emping di Kecamatan Kasemen, Kota Serang, mengeluhkan sepinya pembeli dalam beberapa bulan terakhir. Kondisi tersebut berdampak pada penurunan penjualan yang bahkan disebut lebih rendah dibanding masa pandemi Covid-19.

Pemilik Usaha Emping Pang Pang, Teti, mengatakan penurunan mulai dirasakan setelah Idulfitri tahun ini. Berkurangnya jumlah pembeli membuat omzet yang diperoleh tidak lagi sebesar tahun-tahun sebelumnya.

"Pembeli banyak cerita tokonya sepi. Jadi enggak bisa belanja seperti dulu," kata Teti saat ditemui di usahanya di Kasemen, Rabu, 17 Juni 2026.

Menurutnya, situasi saat ini justru lebih berat dibanding masa pandemi Covid-19. Saat pandemi, banyak pelanggan membeli emping dalam jumlah besar untuk disimpan sebagai persediaan di rumah sehingga penjualan meningkat signifikan.

"Kalau Covid ramai. Hari biasa bisa sampai Rp2 juta. Kalau hari Minggu bisa sampai Rp10 juta sehari. Orang belanja sampai 10 kilogram buat stok biasanya," ujarnya.

Kini, omzet penjualan pada akhir pekan hanya berkisar Rp2 juta hingga Rp3 juta per hari. Sementara pada hari biasa, emping yang terjual rata-rata sekitar lima kilogram per hari. Bahkan ada kalanya dagangan tidak laku sama sekali ketika pengunjung yang datang sangat sedikit.

Sebagian besar pelanggan Emping Pang Pang berasal dari Jakarta, Tangerang, dan Bogor. Teti mengatakan pembeli dari luar daerah selama ini menjadi pasar utama karena banyak yang datang ke kawasan Kasemen untuk berwisata religi maupun berkunjung ke vihara.

Untuk menjaga kualitas, Teti mendapatkan pasokan langsung dari pengepul dan perajin emping di sejumlah wilayah Kabupaten Serang. Ia mengaku harus memilih produk dengan kualitas terbaik agar tetap diminati pelanggan.

Selain melayani pembeli yang datang langsung, Emping Pang Pang juga menerima pesanan dari berbagai daerah seperti Bali, Palembang, Kalimantan, hingga sejumlah kota lainnya. Namun volume pesanan saat ini tidak sebanyak beberapa tahun lalu.

Di tengah lesunya penjualan, harga emping juga masih mengalami fluktuasi mengikuti pasokan melinjo. Saat ini harga emping berada di kisaran Rp75 ribu per kilogram. Menjelang hari raya, harga sempat menyentuh Rp80 ribu per kilogram.

Teti mengatakan harga dapat berubah sewaktu-waktu tergantung ketersediaan bahan baku. Saat pasokan melinjo melimpah, harga emping bisa turun hingga Rp50 ribu sampai Rp60 ribu per kilogram. Sebaliknya, ketika pasokan terbatas, harga pernah mencapai Rp120 ribu per kilogram.

Menurutnya, pasokan melinjo tidak selalu berasal dari wilayah Banten. Ketika hasil panen lokal berkurang, bahan baku harus didatangkan dari Lampung maupun sejumlah daerah di Pulau Jawa sehingga biaya distribusi ikut meningkat.

Selain emping, Teti juga menjual ceplis, rengginang, dan opak singkong yang menjadi bagian dari oleh-oleh khas Banten. Produk-produk tersebut menjadi alternatif bagi pembeli yang datang ke Kasemen mencari makanan tradisional.

Meski kondisi penjualan sedang menurun, Teti masih berharap sejumlah agenda keagamaan yang akan berlangsung dalam waktu dekat dapat mendongkrak kembali omzet usahanya. Perayaan Peh Cun di kawasan Sungai Cisadane, peringatan hari besar di vihara Avalokitesvara, hingga perayaan tahunan lainnya dinilai selalu membawa dampak positif bagi pedagang.

Pada momen tersebut, ribuan pengunjung biasanya datang dari berbagai daerah seperti Jakarta, Tangerang, Semarang, dan wilayah lainnya. Peningkatan jumlah pengunjung membuat permintaan oleh-oleh ikut naik. "Nanti awal Agustus biasanya ramai. Kalau ada acara besar, banyak tamu datang dan penjualan ikut naik," ujarnya.

Teti berharap daya beli masyarakat segera membaik sehingga penjualan emping kembali meningkat seperti tahun-tahun sebelumnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....