Dinkes Pandeglang Soroti Penolakan Skrining SHK
- 25 Mei 2026 11:46 WIB
- Banten
RRI.CO.ID, Pandeglang – Dinas Kesehatan Kabupaten Pandeglang masih menghadapi tantangan dalam pelaksanaan Skrining Hipotiroid Kongenital (SHK) pada bayi baru lahir. Salah satu kendala terbesar yakni masih adanya keluarga yang menolak pemeriksaan tersebut.
Tim Kerja Kesehatan Gizi Dinkes Pandeglang, Dede Ropiah mengatakan, sebagian orang tua khawatir karena proses pemeriksaan dilakukan dengan pengambilan sampel darah pada tumit bayi. “Kebanyakan keluarga menolak karena takut anaknya kenapa-kenapa. Padahal pemeriksaannya simpel dan manfaatnya jauh lebih besar dibanding rasa sakit sebentar saat diambil darahnya,” kata Dede saat sesi Talkshow Banten Menyapa bersama RRI Pro 1 Banten, Senin 25 Mei 2026.
Ia menjelaskan, metode pemeriksaan dilakukan dengan menusuk tumit bayi menggunakan jarum kecil setelah tumit dihangatkan terlebih dahulu. Tetes darah kemudian diambil dan dikirim ke laboratorium rujukan untuk diperiksa.
Selain penolakan keluarga, kendala lain berasal dari tenaga kesehatan yang belum seluruhnya terampil mengambil sampel sehingga beberapa hasil pemeriksaan harus diulang. Persalinan di rumah atau fasilitas yang belum memiliki pelatihan SHK juga menjadi tantangan tersendiri.
Untuk mengatasi hal tersebut, Dinkes Pandeglang terus memperkuat kerja sama dengan rumah sakit, Puskesmas, dan klinik persalinan. Program SHK juga telah diintegrasikan dengan layanan JKN agar seluruh bayi yang lahir dapat menjalani skrining.
“Kalau ada program gratis dari pemerintah, harusnya masyarakat lebih antusias. Sayang kalau fasilitas yang sudah disediakan negara tidak dimanfaatkan dengan baik,” ujarnya.
Dinkes juga terus meningkatkan edukasi melalui media sosial, webinar, serta sosialisasi langsung kepada masyarakat agar kesadaran pentingnya deteksi dini hipotiroid kongenital semakin meningkat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....