Kebutuhan Hewan Kurban di Lebak  Naik Drastis

  • 14 Mei 2026 08:48 WIB
  •  Banten

RRI.CO.ID, Lebak - Kebutuhan hewan kurban untuk perayaan Iduladha 1447 Hijriah/2026 Masehi di Kabupaten Lebak diperkirakan mengalami peningkatan, mencapai 8.000 ekor. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat sebanyak 6.159 ekor.

Kenaikan kebutuhan hewan kurban itu dipengaruhi meningkatnya minat masyarakat untuk berkurban pada tahun ini. Pemerintah daerah pun mulai memperketat pengawasan terhadap kesehatan hewan yang diperjualbelikan di sejumlah lapak penjualan ternak.

Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner pada Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Lebak, Hanik Malichatin, mengatakan kebutuhan hewan kurban terdiri atas berbagai jenis ternak. “Untuk kebutuhan Idul Adha tahun ini diproyeksikan mencapai 8.000 ekor yang terdiri atas 445 kerbau, 846 sapi, 6.409 domba, dan 300 kambing,” kata Hanik Malichatin di Rangkasbitung, Rabu, 13 Mei 2026.

Ia menjelaskan, sebagian kebutuhan hewan kurban dipenuhi dari peternak lokal Kabupaten Lebak. Namun, untuk jenis tertentu masih dipasok dari luar daerah. “Kerbau dan kambing sebagian besar tersedia dari peternak lokal. Sedangkan domba dan sapi didatangkan dari Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Lampung,” ujarnya.

Menurut Hanik, harga hewan kurban di sejumlah lapak penjualan di Rangkasbitung relatif stabil meski permintaan meningkat menjelang Hari Raya Idul Adha. Saat ini harga kerbau dan sapi rata-rata mencapai Rp25 juta per ekor.

Sementara harga kambing dijual sekitar Rp2,5 juta per ekor dan domba mencapai Rp5 juta per ekor. Pihak Disnakeswan Kabupaten Lebak memastikan seluruh hewan kurban yang dijual kepada masyarakat dalam kondisi sehat dan layak konsumsi.

“Kami melakukan pengawasan dan pemeriksaan langsung di lapangan untuk memastikan hewan kurban sehat serta aman dikonsumsi masyarakat,” ujar Hanik.

Ia menegaskan setiap hewan ternak dari luar daerah wajib dilengkapi dokumen Surat Keterangan Kesehatan Hewan atau SKKH sebelum masuk ke wilayah Kabupaten Lebak. “Kalau hewan dari luar daerah tidak memiliki dokumen SKKH, maka akan kami tolak bahkan bisa dilakukan penyitaan,” katanya.

Selain pengawasan administrasi, petugas juga melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap hewan kurban di lapak-lapak penjualan yang tersebar di sejumlah wilayah. Pemeriksaan dilakukan dalam dua tahapan, yakni pemeriksaan sebelum penyembelihan atau antemortem dan pemeriksaan setelah penyembelihan atau postmortem.

“Kami ingin memastikan hewan kurban bebas dari penyakit berbahaya seperti antraks maupun penyakit menular lainnya yang dapat membahayakan kesehatan manusia,” ucap Hanik.

Pengawasan terhadap hewan kurban dilakukan sejak 11 Mei hingga 26 Mei 2026. Petugas setiap hari mendatangi lokasi penjualan ternak untuk melakukan pemeriksaan kesehatan. Beberapa titik pengawasan berada di kawasan Jalan Siliwangi, Bypass Soekarno-Hatta, dan jalur Rangkasbitung-Pandeglang Raya yang menjadi pusat penjualan hewan kurban.

Hanik mengatakan hingga saat ini pihaknya belum menemukan kasus penyakit mulut dan kuku atau PMK pada hewan kurban hasil pemeriksaan di lapangan. “Kami belum menemukan hewan kurban yang terpapar PMK, tetapi kewaspadaan tetap kami tingkatkan terutama terhadap ternak yang masuk dari luar daerah,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar lebih teliti sebelum membeli hewan kurban. Menurutnya, hewan sehat memiliki ciri bulu dan mata yang cerah, lincah, nafsu makan baik, serta tidak memiliki luka maupun cacat tubuh.

Masyarakat diminta mewaspadai ciri-ciri hewan yang terindikasi terkena antraks, salah satunya mengeluarkan darah dari sejumlah lubang tubuh. “Warga juga perlu waspada terhadap hewan yang berasal dari daerah endemik antraks, khususnya dari wilayah Jawa Barat,” kata Hanik.

Di sisi lain, para pedagang hewan kurban mengaku mendukung langkah pengawasan kesehatan yang dilakukan pemerintah daerah demi menjaga kepercayaan masyarakat. Gofur (60), pedagang domba di Jalan Siliwangi Rangkasbitung, mengatakan seluruh ternak miliknya telah diperiksa oleh petugas Disnakeswan Kabupaten Lebak. “Petugas sudah memeriksa kesehatan domba yang kami jual dan hasilnya semua sehat serta layak untuk kurban,” ujar Gofur.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....