Puncak Seba Baduy 2026, Warga Minta Dukungan Pelaksanaan Ritual Adat
- 25 Apr 2026 22:10 WIB
- Banten
RRI.CO.ID, Serang - Masyarakat adat Baduy menitipkan sejumlah permintaan kepada Pemerintah Provinsi Banten pada malam puncak Seba Baduy 2026 di Pendopo Gubernur Banten, Sabtu malam 25 April 2026. Salah satu yang disampaikan ialah dukungan pelaksanaan ritual adat di kawasan Sang Hyang Sirah dan Gunung Honje, yang langsung direspons dengan rencana tindak lanjut bersama pemerintah daerah terkait.
Gubernur Banten, Andra Soni mengatakan aspirasi masyarakat Baduy menjadi perhatian pemerintah, terutama yang berkaitan dengan pelestarian alam dan kelangsungan tradisi adat yang masih dijaga turun-temurun.
“Tadi mereka menyampaikan harapan untuk bisa melaksanakan ritual di Sang Hyang Sirah dan Gunung Honje, yang mereka sebut kegiatan ngaruat gunung. Mudah-mudahan nanti bisa kita fasilitasi,” ujarnya.
Menurut dia, Pemprov Banten akan berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup serta Pemerintah Kabupaten Lebak dan Pandeglang karena lokasi yang dimaksud berkaitan dengan lintas wilayah administratif. “Nanti kita koordinasikan juga dengan Kabupaten Lebak dan Pandeglang terkait apa yang disampaikan masyarakat Baduy,” katanya.
Selain menyampaikan permintaan, masyarakat Baduy juga membawa pesan tentang pentingnya menjaga lingkungan. Gubernur menilai hal itu sejalan dengan amanah leluhur yang selama ini dipegang masyarakat adat Kanekes.
“Saya mengapresiasi apa yang disampaikan Jaro tadi tentang persoalan lingkungan di wilayah mereka. Itu amanah yang dijaga turun-temurun,” ucapnya.
Ia juga memuji ketertiban warga Baduy selama prosesi Seba berlangsung. Saat pemimpin adat berbicara, seluruh rombongan tetap tenang dan mengikuti jalannya acara dengan khidmat.
“Begitu tertib. Saat pemimpinnya berbicara, tidak ada satu pun yang ikut berbicara,” katanya.
Nilai pelestarian alam itu, lanjut dia, tercermin dalam falsafah adat gunung ulah dilebur, lebak ulah dirusak, yang mengajarkan agar gunung dan lembah tetap dijaga kelestariannya.
Rangkaian Seba Baduy tahun ini berlangsung selama tiga hari. Rombongan berangkat dari Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, kemudian menemui Bupati Lebak, singgah ke Pandeglang, dan berakhir di Pendopo Gubernur Banten sebagai puncak acara.
Selama di Kota Serang, pemerintah menyiapkan sejumlah agenda kebudayaan bagi rombongan Baduy, di antaranya karnaval, pertunjukan film layar tancap, serta wayang golek.
“Mereka juga meminta bisa menonton film. Kebiasaan mereka suka layar tancap. Mereka juga paling suka wayang golek,” ujar Andra.
Pada Minggu pagi, pemerintah juga menyiapkan sarapan bersama. Dalam tradisi Seba, masyarakat Baduy membawa laksa untuk diserahkan kepada “Bapak Gede” sebagai bentuk penghormatan serta ungkapan syukur atas hasil panen.
Andra menambahkan, masyarakat Baduy baru saja menyelesaikan puasa Kawalu selama tiga bulan sebelum menjalankan tradisi Seba.
Kepala Desa Kanekes Jaro Oom, menyampaikan terima kasih atas sambutan yang diberikan pemerintah pada malam puncak Seba Baduy tahun ini. “Kami sangat berterima kasih. Sudah diterima dengan baik, begitu meriah, dan bisa berbincang langsung dengan Bapak Gede,” kata Jaro Oom.
Ia menjelaskan, Seba merupakan amanah leluhur yang wajib dijalankan setiap tahun. Selain menyerahkan hasil bumi, masyarakat Baduy juga menyampaikan titipan pesan adat, termasuk menjaga alam dan melaksanakan ritual keselamatan di kawasan pegunungan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....