Banten Girang, Titik Temu Ziarah dan Sejarah

  • 24 Apr 2026 17:40 WIB
  •  Banten

RRI.CO.ID, Serang - Situs Banten Girang di Kota Serang masih menjadi tujuan ziarah yang terus didatangi masyarakat. Dari pagi hingga sore, rombongan peziarah datang silih berganti. Kendaraan pribadi memenuhi area parkir, sebagian lainnya turun dari angkutan umum dan berjalan menuju kawasan situs.

Menjelang musim haji dan umrah, jumlah kunjungan meningkat. Tidak hanya warga Banten, peziarah dari Jawa Barat juga turut berdatangan, terutama saat akhir pekan dan hari libur.

Juru Pelihara Situs Banten Girang, Ahmad Jubaedar, menyebut ramainya kunjungan sudah terlihat sejak pagi. Rombongan datang dalam jumlah besar, sebagian bahkan terdiri dari satu kampung yang mengantar warganya sebelum berangkat haji.

“Kalau kondisi sekarang ini lagi ramai, apalagi menjelang bulan haji atau umrah. Dari pagi tadi saja sudah beberapa rombongan datang. Biasanya juga kalau akhir pekan atau hari libur memang banyak peziarah, bukan hanya dari Banten tapi juga dari Jawa Barat,” ujarnya, Jumat, 24 April 2026.

Di kawasan ini, aktivitas peziarah tidak hanya berpusat di area makam Masjong dan Agus Ju. Museum yang berada di dalam kompleks menjadi salah satu tujuan utama. Pengunjung datang untuk melihat koleksi sekaligus mencari tahu sejarah Banten Girang.

“Banyak pengunjung datang ke museum dulu, baru lanjut ziarah, atau setelah ziarah ke museum. Mereka biasanya ingin tahu sejarah di tempat ini. Selain peziarah, mahasiswa juga sering datang untuk belajar,” kata Ahmad.

Momentum tertentu seperti Maulid Nabi, Idul Fitri, dan Idul Adha menjadi waktu dengan kunjungan paling padat. Tradisi ziarah juga kerap dilakukan menjelang keberangkatan haji, sebagai bagian dari kebiasaan yang masih dijaga hingga kini.

Di tengah aktivitas tersebut, pengelola situs mengingatkan pentingnya pemahaman mengenai lokasi ziarah. Di Banten Girang, area yang ada merupakan makbaroh, tempat yang diyakini terdapat jenazah, berbeda dengan petilasan yang hanya menjadi penanda sejarah.

“Kalau datang, sebaiknya bertanya dulu ke pengurus supaya tahu mana yang asli dan mana yang hanya petilasan,” ujarnya.

Bagi sebagian pengunjung, ziarah ke Banten Girang bukan sekadar kegiatan sesaat, melainkan bagian dari kebiasaan yang diwariskan dalam keluarga. Hal itu dirasakan Juhendri, warga Kebon Sawo, yang sejak kecil telah diajak orang tuanya datang ke tempat ini.

“Dari kecil sudah diajak orang tua ziarah ke sini, sekarang diteruskan. Ini bagian dari silaturahmi dan amanat keluarga,” katanya.

Ia juga kerap mengajak anak-anak dan murid silatnya untuk datang berziarah, terutama sebelum mengikuti kegiatan tertentu. Baginya, ziarah menjadi cara mengenalkan sejarah Banten kepada generasi muda.

“Biar mereka tahu sejarah Banten dan siapa yang dulu berjuang di sini,” ujarnya.

Menurutnya, tujuan utama ziarah tetap pada doa yang dipanjatkan untuk diri sendiri. “Yang utama dari ziarah itu doa untuk kita. Mereka tidak butuh, justru kita yang berharap keberkahan,” ucapnya.

Sementara itu, peziarah lain asal Cipocok Jaya, Randi Al Firdaus, mengaku baru pertama kali datang ke Banten Girang. Ia mengikuti ajakan keluarganya untuk berziarah sekaligus mencari ketenangan.

“Saya baru pertama kali ke sini, diajak Kakak. Kalau ziarah itu buat menenangkan hati saja. Di Serang memang banyak tempat ziarah, tapi di sini dekat dari rumah,” katanya.

Menjelang sore, suasana perlahan berubah. Sebagian peziarah masih duduk berdoa, sementara yang lain mulai meninggalkan kawasan. Aktivitas kembali mereda, namun jejak langkah yang datang silih berganti menunjukkan satu hal—Banten Girang tetap hidup sebagai ruang ziarah sekaligus pengingat perjalanan sejarah yang terus dijaga.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....