UPTD PPA Pandeglang Kawal Pemulihan Anak Hamil
- 19 Apr 2026 13:09 WIB
- Banten
RRI.CO.ID, Pandeglang - Pemulihan kondisi fisik dan psikologis menjadi fokus utama penanganan kasus anak berusia 13 tahun yang tengah mengandung delapan bulan akibat ulah ayah kandungnya. Tim ahli kini tengah memberikan pendampingan intensif mengingat kondisi korban yang sangat rentan menjelang masa persalinan. Intervensi medis terus dilakukan oleh Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) untuk memastikan kesehatan ibu dan janin karena minimnya asupan nutrisi selama masa kehamilan yang tersembunyi.
Kepala UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) pada DP2KBP3A Pandeglang, Mila Oktaviani, menyebut pihaknya telah menerjunkan tenaga psikolog untuk memeriksa tingkat trauma korban. Selain pemulihan mental, menurutnya korban juga tengah menjalani pemeriksaan rutin di dokter spesialis kandungan (obgyn) untuk memantau perkembangan janin.
"Fokus kita sekarang di kesehatan korban sampai masa melahirkan satu bulan ke depan, karena selama delapan bulan ini mungkin asupan vitaminnya sangat kurang. Dampak kekerasan ini bukan hanya fisik tapi psikologisnya besar, maka kami dampingi terus pemeriksaannya," kata Mila, Minggu 19 April 2026.
Langkah ini dinilainya krusial karena kehamilan di usia dini memiliki risiko medis yang tinggi bagi keselamatan fisik sang anak. Proses pendampingan dilakukan secara menyeluruh mulai dari pelaporan di kepolisian hingga pendampingan visum et repertum di rumah sakit. Pendampingan psikologis juga terus dilakukan oleh UPTD PPA untuk memenuhi kebutuhan pembuktian dalam proses hukum yang sedang berjalan di Polres Pandeglang. UPTD PPA memastikan hak-hak korban untuk mendapatkan rasa aman dan nyaman tetap terpenuhi selama masa pemeriksaan penyidik.
"Kami memiliki tenaga ahli psikologi untuk memeriksa kondisi psikologisnya guna pemulihan sekaligus pemenuhan pembuktian hukum. Kita ingin memberikan rasa aman karena mayoritas korban itu awam dan bingung harus bagaimana saat menghadapi proses hukum," katanya.
Walau demikian, menurutnya status korban yang masih duduk di bangku sekolah dasar menambah kompleksitas penanganan masa depan sang anak pascamelahirkan. Namun menurut Mila tim pendamping akan terus melakukan asesmen lanjutan untuk menentukan pola asuh terbaik bagi bayi yang akan lahir serta kelanjutan pendidikan korban.
"Koordinasi lintas sektor antara rumah sakit, kepolisian, dan dinas sosial terus diperkuatnya guna menjamin keadilan bagi korban," ucap dia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....