Pelaku Kasus Kekerasan Anak di Pandeglang Didominasi Kerabat
- 19 Apr 2026 13:03 WIB
- Banten
PANDEGLANG, RRI.CO.ID – Tren kekerasan seksual terhadap anak di Kabupaten Pandeglang menempatkan lingkungan keluarga dan orang terdekat sebagai ancaman utama bagi korban. Fenomena ini menjadi perhatian serius Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) menyusul tingginya persentase pelaku yang berasal dari kerabat hingga tetangga sendiri.
Kepala UPTD PPA DP2KBP3A Pandeglang, Mila Oktaviani mengungkapkan, mayoritas pelaku merupakan orang-orang yang memiliki relasi kuasa terhadap korban. Pola ini seringkali dinilainya membuat anak tidak menyadari bahwa tindakan yang mereka alami merupakan bentuk kekerasan. Ketidakpahaman anak terhadap batas fisik dan rasa takut akibat ancaman pelaku menjadi penghambat utama terungkapnya kasus secara lebih awal.
"Rata-rata pelakunya dari kerabat sendiri, mayoritas orang terdekat baik lingkungan keluarga sampai tetangga. Minoritas ada yang baru dikenal lewat media sosial, namun relasi kuasa antara orang tua ke anak atau guru ke siswa sangat besar pengaruhnya," ujar Mila, Minggu 19 April 2026.
UPTD PPA mencatat grafik laporan kekerasan di Pandeglang berfluktuatif dalam empat tahun terakhir. Pada 2022 terdapat 47 kasus, kemudian melonjak drastis menjadi 90 kasus dengan 97 korban pada 2023. Angka tersebut sempat menurun pada 2024 menjadi 73 kasus, namun kembali menunjukkan kenaikan pada 2025 dengan total 75 kasus dan 88 korban.
| Baca juga: Kapolres Pandeglang Raih Presisi Award |
Adapun sepanjang tahun 2026 berjalan hingga bulan April, tercatat sudah ada 9 laporan kasus kekerasan yang masuk ke meja pengaduan. Meski angka ini terlihat menurun secara tren bulanan, Mila mengatakan mayoritas laporan tetap didominasi oleh kekerasan seksual pada anak. Pihak dinas menilai peningkatan laporan justru menunjukkan keberanian masyarakat dalam mengungkap fenomena gunung es yang selama ini tertutup rapat.
"Kekerasan seksual terhadap anak selalu menjadi headline karena jumlahnya pasti menindih kasus lain. Mayoritas anak usia SD bahkan tidak tahu kalau mereka sedang mengalami kekerasan sampai akhirnya kejadian tersebut ketahuan saat kondisinya sudah parah," katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....