Goa Banten Girang Saksi Peralihan Hindu ke Islam

  • 10 Feb 2026 12:26 WIB
  •  Banten

RRI.CO.ID, Serang -  Situs Banten Girang menyimpan beragam peninggalan penting Kerajaan Banten Girang yang merekam perjalanan peradaban sejak masa Hindu-Buddha hingga Islam. Salah satu peninggalan yang masih dapat dijumpai hingga kini adalah goa batu dengan dua pintu yang memiliki peran penting dalam sistem sosial dan keagamaan pada masanya.

Juru Pelihara Situs Banten Girang, Nandar, menjelaskan bahwa goa dengan dua pintu tersebut pada masa Hindu bukan digunakan sebagai tempat bertapa, melainkan sebagai lembaga pemasyarakatan atau ruang rehabilitasi bagi orang-orang yang melakukan pelanggaran terhadap kerajaan.

“Pada zaman Hindu tidak ada bertapa di bawah tanah. Kepercayaannya, semakin tinggi tempatnya, semakin dekat dengan dewanya. Karena itu arca dan tempat pemujaan selalu diletakkan di tempat tinggi, biasanya berupa candi,” ujar Nandar, Selasa, 10 Februari 2026.

Menurutnya, pusat pemujaan masyarakat Banten Girang pada masa Hindu berada di kawasan Gunung Pulosari. Arca-arca dewa yang berasal dari wilayah tersebut kini tersimpan di Museum Nasional Jakarta sebagai bagian dari peninggalan sejarah Banten.

“Candinya ada di Gunung Pulosari. Arca-arca dari sana sekarang diamankan di Museum Nasional. Itu arca dari Banten Girang,” katanya.

Goa dua pintu di Banten Girang memiliki tiga ruangan di bagian dalam. Ruangan-ruangan tersebut digunakan untuk menempatkan orang-orang yang menjalani masa rehabilitasi. Setelah dianggap selesai menjalani hukuman, mereka diperbolehkan keluar melalui pintu lainnya. “Dua pintu itu fungsinya pintu masuk dan pintu keluar. Di dalam ada tiga ruangan,"  kata Nandar.

Nandar menambahkan, keberadaan tiga ruangan di dalam goa menunjukkan adanya tahapan atau proses pembinaan bagi orang-orang yang menjalani rehabilitasi, pada masa Hindu. “Ruangan pertama, kedua, dan ketiga itu berfungsi bertahap. Orang yang melakukan pelanggaran dimasukkan ke dalam, kemudian setelah dianggap selesai menjalani hukumannya, baru diperbolehkan keluar,” katanya.

Memasuki masa Islam, fungsi goa mengalami perubahan. Ruang yang sebelumnya digunakan sebagai tempat isolasi dialihkan menjadi tempat zikir dan beribadah. Nandar menegaskan bahwa dalam ajaran Islam tidak dikenal istilah bertapa, melainkan berzikir untuk mencari ketenangan dan kekhusyukan. “Setelah Islam masuk, tempat ini digunakan untuk zikir dan beribadah. Orang Islam tidak mengenal bertapa. Yang ada itu zikir, ibadah, mencari ketenangan,” ujarnya.

Goa tersebut menjadi saksi sejarah keberadaan Banten Girang sebagai ibu kota kerajaan besar pada masanya. Nandar menilai, jika peninggalan ini dikenalkan secara serius oleh masyarakat dan pemerintah daerah, Banten Girang berpotensi berkembang sebagai objek penelitian sejarah sekaligus kawasan wisata religi. 

"Masyarakat tidak hanya mengenal Banten Lama, tetapi juga memahami peran penting Banten Girang dalam perjalanan panjang sejarah Banten," kata Nandar.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....