Genjot Produksi Pertanian, Pemkab Lebak Perbaiki Irigasi
- 01 Feb 2026 15:19 WIB
- Banten
RRI.CO.ID, Lebak - Pemerintah Kabupaten Lebak, Banten, secara resmi memulai langkah strategis untuk memperkuat ketahanan pangan lokal di awal tahun 2026. Fokus utama saat ini tertuju pada perbaikan infrastruktur pengairan yang krusial bagi keberlangsungan lahan pertanian masyarakat.
Melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), pemerintah setempat melaksanakan pembangunan dan rehabilitasi di delapan Daerah Irigasi (DI) yang tersebar di wilayah tersebut.
Langkah ini diambil sebagai respons atas aspirasi petani yang selama ini kesulitan mengelola pengairan. Plt Kepala Dinas PUPR Kabupaten Lebak, Dade Yan Apriyandi, menjelaskan delapan titik perbaikan tersebut merupakan prioritas utama tahun ini. Beberapa di antaranya berlokasi di wilayah strategis pertanian seperti Kecamatan Bayah, Cijaku, dan Bojongmanik.
"Ada delapan daerah irigasi yang diperbaiki tahun ini, di antaranya berada di Kecamatan Bayah, Cijaku, dan Bojongmanik untuk memastikan distribusi air berjalan lancar," ujar Dade di Rangkasbitung, Sabtu, 31 Januari 2026.
Pembangunan infrastruktur ini didanai melalui Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Lebak tahun 2026. Alokasi dana yang dikucurkan mencapai Rp2,5 miliar guna memastikan kualitas perbaikan memenuhi standar teknis yang dibutuhkan.
Target utama dari proyek ini adalah pengoptimalan pengairan bagi areal persawahan seluas 700 hektare. Luasan tersebut dinilai sangat signifikan dalam mendongkrak angka produksi gabah di tingkat kabupaten, terutama pada musim kemarau.
Selama ini, para petani di Kabupaten Lebak menghadapi tantangan besar karena harus menggantungkan nasib pada curah hujan. Kondisi jaringan irigasi yang banyak mengalami kerusakan dan kebocoran menjadi penyebab utama terhambatnya proses tanam.
Banyak titik di areal pertanian pangan produktif bahkan belum memiliki sarana prasarana irigasi yang memadai. Kondisi ini memaksa petani bekerja ekstra keras untuk mendapatkan air, atau terpaksa membiarkan lahan mereka tidak tergarap optimal saat hujan jarang turun.
Pemerintah daerah menyadari bahwa perbaikan DI adalah kunci utama untuk meningkatkan pendapatan ekonomi petani. Dengan air yang mengalir stabil, risiko gagal panen akibat kekeringan dapat diminimalisir secara signifikan. Berdasarkan data teknis, Kabupaten Lebak saat ini memiliki total 474 unit jaringan Daerah Irigasi. Jumlah tersebut terdiri atas 463 unit irigasi permukaan dan 11 unit irigasi pompa yang semuanya dikelola menggunakan dana APBD.
Namun, Dade mengakui kemampuan anggaran daerah masih relatif terbatas jika dibandingkan dengan luasnya area yang harus ditangani. Intervensi dari pemerintah pusat dan provinsi sangat diharapkan untuk mempercepat cakupan rehabilitasi irigasi.
Di sisi lain, Kepala Bidang Produksi Dinas Pertanian Kabupaten Lebak, Deni Iskandar, mencatat Luas Baku Sawah (LBS) di daerah ini mencapai 52.025 hektare. Menariknya, Indeks Pertanaman (IP) di Lebak kini menunjukkan tren positif yang menggembirakan.
"Saat ini indeks pertanaman kita sudah mencapai tiga kali tanam dalam setahun, padahal sebelumnya hanya 2,5 kali. Meningkatnya IP ini merupakan dampak nyata dari perbaikan jaringan irigasi," kata Deni .
Masyarakat petani menyambut baik proyek ini dengan penuh syukur karena impian mereka akan pengairan yang lancar mulai terwujud. Optimalisasi arus air ke persawahan dipastikan akan mengubah pola tanam mereka menjadi lebih teratur dan produktif di masa depan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....