Seni Tradisional Banten di Ambang Zaman
- 15 Jan 2026 11:34 WIB
- Banten
RRI.CO.ID, Serang – Kesenian tradisional Banten berada pada titik persimpangan di tengah arus modernisasi. Sebagian masih bertahan karena kebutuhan masyarakat, sementara lainnya kian terpinggirkan akibat menurunnya minat dan permintaan.
Pelaku seni Banten, Tirta Nugraha Pratama, menilai kondisi tersebut mencerminkan realitas di lapangan. Menurutnya, eksistensi seni tradisi saat ini sangat bergantung pada keberlanjutan praktik di komunitas dan relevansinya dengan kehidupan masyarakat.
“Secara keseluruhan memang di ambang batas, ada yang masih bertahan karena dibutuhkan, ada juga yang hampir tenggelam karena jarang diminati,” ujar Tirta, dalam program Kita Indonesia di RRI Pro 1 Banten, Kamis, 15 Januari 2026.
Ia menyebut tantangan terbesar bukan hanya laju teknologi, melainkan menurunnya frekuensi pentas. Berkurangnya permintaan membuat sejumlah kesenian kehilangan ruang tampil, sehingga berdampak langsung pada keberlangsungan para pelakunya.
Selain itu, persoalan regenerasi dinilai krusial. Tirta menjelaskan, kesenian tradisional diwariskan secara turun-temurun, namun proses pewarisan di sejumlah komunitas kian melemah. “Regenerasi ini yang paling penting, karena tanpa pewarisan, tradisi akan berhenti,” ujarnya.
Ia mencontohkan sejumlah kesenian Banten yang rentan hilang dan dilupakan oleh generasi muda, seperti Ubrug, Rudat, Terbang Gede, hingga Wayang Garing yang pelakunya kian terbatas. Tirta menegaskan, tanpa intervensi serius, sebagian tradisi berpotensi hilang dari ruang publik.
Untuk menjawab tantangan itu, Tirta mendorong integrasi seni tradisional ke dalam pendidikan formal. Ia mengusulkan penguatan muatan lokal di sekolah agar tidak hanya berfokus pada batik dan pencak silat, tetapi juga memberi ruang bagi kesenian yang terancam punah serta idealnya bisa dimulai sejak sekolah dasar agar regenerasi berjalan lebih dini. Selain sekolah, sanggar dan komunitas juga diharapkan membuka kelas terbuka sebagai jalur pewarisan alternatif.
Tirta menambahkan, pelatihan berkelanjutan meski dengan peminat terbatas tetap memberi dampak positif. Ia optimistis, dengan kolaborasi komunitas, sekolah, dan pemerintah, regenerasi dapat kembali menghidupkan kesenian tradisional Banten.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....