Smart Farming Dongkrak Produktivitas Cabai di Pandeglang
- 29 Nov 2025 14:34 WIB
- Banten
KBRN, Pandeglang: Penerapan teknologi Internet of Things (IoT) dan sistem Smart Farming kini menjadi solusi strategis dalam menghadapi keterbatasan lahan pertanian di Kabupaten Pandeglang. Petani Milenial asal Kampung Curuggaru, Desa Kadugemblong, Muhammad Teguh Arrosid, membuktikan efektivitas intensifikasi lahan seluas 1.000 meter persegi untuk komoditas cabai merah keriting. Pendekatan agronomi modern ini dilakukan guna mendukung program swasembada pangan pemerintah sekaligus menjawab tantangan produktivitas pertanian konvensional.
Teguh menyebut dengan penerapan teknologi agronomi modern tersebut memungkinkan lahan seluas satu hektare yang umumnya hanya menampung 2.000 populasi tanaman, kini bisa menampung hingga 4.100 populasi cabai merah keriting. Pola tanam rapat tersebut ia topang dengan penggunaan smart farming berbasis Internet of Things. Teguh memanfaatkan sistem irigasi tetes, pemupukan berbasis hasil uji laboratorium tanah, hingga aplikasi digital untuk menentukan komposisi hara.
“Kami menggunakan IoT, smart farming, dan drip irrigation untuk memastikan penyiraman serta pemupukan sesuai kebutuhan hara tanah. Tanah kami cek ke laboratorium, hasil lab kami input ke aplikasi, lalu aplikasi memerintahkan berapa N, P, K yang harus kami masukkan. Jadi semuanya presisi,” ujarnya, Sabtu (29/11/2025).
Dengan pendekatan tersebut, Teguh menargetkan produktivitas satu ton cabai per hektare. Angka tersebut berada di atas rata-rata produktivitas Provinsi Banten yang sekitar 8,5 ton per hektare.
Meski efektif, menurutnya pola intensifikasi membutuhkan biaya awal lebih tinggi dan ketelitian pemeliharaan, sehingga masih menjadi tantangan bagi petani yang belum terbiasa dengan teknologi.
Hasil panen cabai sebagian besar dijual ke pedagang dengan harga saat ini sekitar Rp50 ribu per kilogram di tingkat petani. Teguh menyebut harga di pasar lebih tinggi dan bervariasi antardaerah. Namun fluktuasi harga serta biaya produksi yang meningkat masih menjadi tantangan bagi petani milenial di Pandeglang, sehingga efisiensi melalui teknologi dianggap penting agar hasil tetap dapat menutup biaya operasional.
Selain cabai, kelompok tani di wilayah tersebut juga membudidayakan bunga telang sebagai komoditas pendapatan harian. Tanaman dengan panen setiap hari ini dinilai mampu menambah ketahanan ekonomi masyarakat, karena bisa dipanen tiap harinya.
Teguh berharap semakin banyak generasi muda terjun ke sektor pertanian. Ia menyebut keberlanjutan pangan membutuhkan petani muda yang mau mempelajari perkembangan teknologi dan mengikuti perubahan sistem produksi.
“Anak muda bukan tidak mau bertani, mereka hanya belum mengenal. Semoga mereka semakin aware, mau membaca perkembangan, dan menyadari bahwa pertanian punya peluang besar,” ujar Teguh. (Ridwan Maulana)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....