Best Advokasi Genre 2025, Yuda Gaungkan Edukasi Kreatif

  • 05 Nov 2025 16:21 WIB
  •  Banten

KBRN, Serang: Prestasi membanggakan kembali diraih remaja asal Banten. Yuda Afif Al Manshur, perwakilan dari Forum Genre Provinsi Banten, berhasil menyabet penghargaan Best Advokasi Duta Genre Indonesia 2025 pada ajang nasional yang digelar di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau.

Mahasiswa asal Kota Tangerang Selatan ini dikenal sebagai sosok kreatif yang mampu menggabungkan seni dan edukasi dalam setiap langkah advokasinya. Melalui karya-karya berbasis desain, Yuda menciptakan komik edukasi dan video animasi yang mengangkat substansi program Generasi Berencana (Genre).

“Program yang saya buat ini terinspirasi dari kemampuan saya di bidang seni dan desain. Saya ingin membuat media edukasi yang mudah dipahami remaja, salah satunya lewat komik edukasi dan video animasi,” ujar Yuda saat berbincang bersama Pro 2 RRI, Selasa (5/11/2025).

Menurutnya, pendekatan visual lebih efektif menarik perhatian remaja di era digital saat ini. Banyak dari mereka, kata Yuda, cenderung cepat bosan dengan bentuk edukasi konvensional seperti ceramah atau teks panjang. Karena itu, ia memilih menggunakan media interaktif agar pesan tentang pernikahan dini, seks pranikah, dan penyalahgunaan NAPZA dapat tersampaikan dengan cara yang menyenangkan.

“Kalau remaja hanya diberi materi dalam bentuk teks itu membosankan. Saya ingin edukasi yang lebih kreatif dan relate dengan kebiasaan mereka. Di komik edukatif yang saya buat juga ada games dan barcode yang bisa langsung tersambung ke video animasi,” ucapnya.

Melalui platform Instagram @genrengers_, Yuda berhasil menjangkau lebih dari 500 remaja di berbagai daerah. Program “Gen Rengers” yang ia inisiasi tidak hanya menampilkan komik dan animasi, tetapi juga menghadirkan kelas desain sebagai wadah pengembangan keterampilan digital.

“Tujuan saya sederhana, supaya remaja bukan hanya paham isu keremajaan, tapi juga punya keterampilan untuk berkarya. Ini bagian dari mempersiapkan generasi produktif menuju bonus demografi,” katanya.

Yuda mengakui, perjalanan menuju gelar Best Advokasi tidak mudah. Ia harus menyeimbangkan waktu antara kuliah, organisasi, dan proses kreatif pembuatan konten. Namun, semangat untuk membawa perubahan bagi remaja Indonesia membuatnya terus bertahan.

“Kadang capek, tapi saya selalu ingat bahwa advokasi itu bukan tentang siapa yang paling pintar bicara, tapi siapa yang paling berdampak,” ujarnya.

Melalui pendekatan kreatifnya, Yuda membuktikan bahwa advokasi tak harus selalu formal. Seni dan teknologi bisa menjadi jembatan efektif untuk menyampaikan pesan positif bagi generasi muda Indonesia.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....